Gunakan Varietas Baru, Petani Milenial Panen Bawang Aspirasi Dedi Mulyadi

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi panen bawang merah bersama petani milenial di Purwakarta. (Antara/HO-Dedi Mulyadi Center)

Editor: Yoyok - Kamis, 1 September 2022 | 18:45 WIB

Sariagri - Petani milenial di Desa Cikeris, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, panen bawang merah bersama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi.

“Ini adalah kedua kalinya kita panen. Ternyata terbukti kalau bawang merah varietas ini bisa ditanam di dataran tinggi, seperti di sini,” kata Dedi Mulyadi di sela-sela panen di Purwakarta, Kamis (1/9/2022).

Bawang merah yang ditanam itu merupakan varietas baru ijo yang merupakan aspirasi Dedi Mulyadi untuk meningkatkan produktivitas dan perekonomian para petani muda di wilayah tersebut.

Selain mendapatkan bantuan bibit, para petani juga mendapat bantuan berupa pupuk dan kebutuhan tanam lainnya.

Ia menyampaikan bawang merah yang ditanam selama dua bulan empat hari itu berhasil tumbuh subur di lahan seluas 10 hektare. Dari luas lahan tersebut, petani bisa menghasilkan hingga 30 ton bawang merah.

Setelah dipanen kemudian bawang tersebut akan dikeringkan dan mengalami penyusutan sekitar 60 persen. Selanjutnya bawang siap dijual ke pasaran.

"Jika harga bawang merah Rp15 ribu per kilogram, maka setelah ada penyusutan petani masih mendapat untung Rp180 juta. Nantinya uang itu akan menjadi keuntungan, dan modal mereka kembali,” katanya.

Dedi berharap para petani bisa semakin kreatif dengan menciptakan produk hasil pertanian, sehingga bawang hasil panen tidak hanya dijual mentah ke pasar, tapi bisa dalam produk lainnya.

“Bawangnya nanti bisa jadi oleh-oleh khas Cikeris, misal jadi bawang goreng atau produk lainnya. Nanti kan bisa ada keuntungan lebih dari hasil panen dan perekonomian itu terus berputar,” kata dia.

Baca Juga: Gunakan Varietas Baru, Petani Milenial Panen Bawang Aspirasi Dedi Mulyadi
Mengenal Salah Satu Daerah Produksi Bawang Merah Terbesar di Jabar

Dedi Mulyadi juga meminta kepada kepala desa dan Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta untuk mengendalikan sistem pertanian bawang. Jangan sampai karena bawang berhasil tumbuh di tempat tersebut, semua petani beralih menanam.

“Program ini memang berhasil, tapi tetap harus diatur, karena kalau semua ikut-ikutan tanam bawang juga harga di pasaran bisa anjlok. Hitung produksi agar sesuai dengan kebutuhan,” katanya.

Video Terkait