Unik! Batik Ecoprint Menggunakan Bahan Daun, Bunga dan Ranting

Perajin batik ecoprint yang memanfaatkan daun. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:15 WIB

Momentum hari batik nasional dimanfaatkan, Aliffuanna Irnilasanti (31 tahun) perajin asal Desa Pojoksari, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, Jawa Timur dalam melakukan terobosan karya.  

Melimpahnya bahan alam yang ada di lingkungan sekitar, seperti dedaunan, bunga dan ranting tanaman dimanfaatkan menjadi teknik membatik ecoprint.

Menurut Aliffuanna, batik ecoprint memiliki kekuatan daya tarik pada corak dan warna. Sehingga mampu menggeser pasar batik tulis atau batik ciprat.

“Batik ecoprint memberi kesan yang berbeda dibanding batik tulis atau batik ciprat. warna dan motif batik berasal dari alami seperti dedaunan, bunga atau ranting memiliki pesona daya magnet tersendiri di kalangan pecinta batik,” tutur Aliffuanna kepada Sariagri, Senin (17/10/2022).

Dalam membuat batik ecoprint, lanjutnya, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Sebab tahapannya cukup panjang, namun hasilnya diakui sangat mempesona.

“Awalnya disiapkan kain, lalu dibasahi. Kemudian masuk proses pencetakan dengan meletakkan daun, bunga atau ranting yang mengandung pigmen warna. Selanjutnya kain dilipat dan diikat,” terangnya seraya memperagakan tahapan batik ecoprint.

Tahapan berikutnya, lanjut Aliffuanna, yakni proses pengukusan hingga jadi batik dengan warna alami yang berasal dari daun atau bunga.

Baca Juga: Unik! Batik Ecoprint Menggunakan Bahan Daun, Bunga dan Ranting
Tanaman ini Memang Mengeluarkan Aroma di Malam Hari Sering Dianggap Mistis



“Umumnya saya menggunakan bahan dari alam sekitar seperti daun matoa, suren, daun kayu afrika, jenitri, pakis, dan lain-lain,” kata dia.

Terobosan batik ecoprint, berhasil mendongkrak penjualan dibandingkan batik biasa. Dalam satu bulan ia mampu menjual 20 lembar atau pada saat pemesanan kolektif bisa mencapai 80 lembar kain batik ecoprint.

“Alhamdulillah penjualan terus naik. Setiap bulan terjual kain batik ecoprint sekitar 20 hingga 80 pieces, tergantung pesanan. selain diminati pelanggan sekitar Magetan, juga dipesan ke luar daerah seperti Jakarta, Lombok, Surabaya dan daerah lainnya,” bebernya.

Harga kain batik ecoprint buatannya dijual mulai termurah Rp200.000 hingga paling mahal Rp1 juta per lembarnya. Demikian pula dengan baju batik ecoprint dihargai antara Rp400.000 sampai dengan Rp1 juta.

“Harga tergantung jenis bahan, seperti katun per kainnya Rp200.000 sampai Rp1 juta untuk jenis sutra. Sedangkan masker, biasa saya jual Rp25.000 sampai Rp40.000. masker buatan saya dua layer. lapisan luar ecoprint dan lapisan dalam scuba,” pungkasnya.