Untung Berlipat, Musim Hujan Bawa Berkah Petani Jambu Kristal

Petani jambu kristal di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. (Sariagri/Arief L)

Editor: Dera - Jumat, 21 Oktober 2022 | 16:00 WIB

Musim hujan menjadi berkah tersendiri bagi petani jambu kristal (Psidium guajava) yang ada di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Pasalnya, saat musim hujan rasa jambu Kristal lebih manis dan kandungan kadarnya juga meningkat.

Kondisi ini berbanding lurus dengan keuntungan yang didapat oleh petani jambu Kristal. Tidak hanya permintaan meningkat, kebun jambu juga banyak menjadi jujugan para wisatawan yang ingin merasakan sensasi petik jambu masak langsung dari pohonnya.

Berkah musim hujan tersebut dirasakan Karmani, petani jambu kristal di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro.

Menurutnya panen kali ini lebih melimpah dibandingkan dengan panen pada tahun lalu. Menempati lahan seperempat hektare atau sekitar 2.500 meter persegi, sebelumnya di musim kemarau bisa panen per hari 5 kuintal, maka kali ini bisa menghasilkan 2 ton lebih.

“Setahun panennya 2 kali, yakni sekitar Oktober hingga November dan April sampai Mei. Nah di tahun lalu, saat musim kemarau, panennya tidak sebanyak kali ini. Selain itu rasa buahnya tak semanis dan airnya tak sebanyak saat ini,” tutur Karmani kepada Sariagri, Jumat (21/10/2022).

Melimpahnya hasil panen, membuat ia meraup untung berlipat. Dalam menjual jambu Kristal, Karmani mematok harga berdasarkan jenisnya. Untuk jambu Kristal tanpa biji dijual Rp30.000 per kilogram (kg), sedangkan jambu kristal dengan biji sedikit biasa dihargai Rp12.000/kg.

“Alhamdulillah, dari panen kemarin saya bisa mengantongi pendapatan Rp20 juta. Seminggu lagi bakal ada pemborong yang datang untuk ambil, semoga bisa dapat panen yang lebih banyak lagi,” serunya dengan senyum mengembang.

Hasil panen jambu kristal. (Sariagri/Arief L)
Hasil panen jambu kristal. (Sariagri/Arief L)

Panen melimpah di musim hujan juga dirasakan Abdul Masjid, petani jambu Kristal di Desa Padangan, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro.  

Sebelumnya, ia pernah menjadi petani jagung dan padi. Namun keuntungan dan hasil panen yang dirasakan tak sebanyak menanam jambu Kristal.

“Lahan 1 hektare punya saya ini dulu ditanami padi, kemudian saya beralih ke jagung. Singkat cerita mendengar banyak petani yang mendapat untung berlipat dari jambu kristal, akhirnya saya ikut menanam jambu kristal,” akunya.

Abdul menyebutkan hasil panen dan keuntungan tanam padi maupun jagung masih kalah jauh dengan menanam setengah hektare jambu Kristal.

“Sedikitnya 10 ton buah segar jambu kristal mampu dihasilkan dari 300 batang pohon yang ditanam di lahan seluas 5.000 meter persegi milik saya ini. keuntungannya jauh sekali dibandingkan padi maupun jagung,” kata dia.  

Panen melimpah ini, dimanfaatkannya dengan membuka wisata petik langsung di kebun. Terobosan ini, memberikan keuntungan berlipat setiap kali panen raya.

“Keuntungan yang saya dapatkan dobel. Pertama dari pemborong, kedua dari wisatawan yang datang ke kebun,” bebernya.

Jambu Kristal biji dan non biji yang dibeli pemborong dihargai Rp25.000/kg, sedangkan wisatawan yang datang memetik langsing ke kebun dijual Rp30.000/kg untuk non biji dan yg ada bijinya dihargai Rp15.000/kg.

“Dari hasil penjualan dobel itu, sekali panen per harinya saya bisa dapat uang sekitar Rp30 juta-an. Sebab panen kali ini lebih melimpah, minimal hasil petik yang masak ada 10 ton per hari,” terangnya dengan wajah sumringah.

Abdul menjelaskan kelebihan jambu kristal dibandingkan buah sejenis, yakni ada pada dagingnya yang tebal dan teksturnya lebih renyah.

“Dibandingkan dengan jambu biji biasa, jambu kristal lebih renyah dan dagingnya tebal. Rasanya lebih manis dibandingkan apel, dengan kadar air cukup banyak. Selain itu, asyiknya memetik di kebun bisa pilih sendiri jambu yang diinginkan. Sensasi petik buah jambu masak pohon sepuasnya ini menjadi daya tarik bagi wisatawan jauh seperti saya,” ungkap Aminah, pengunjung asal Jakarta.