Cuaca Panas Ekstrem Turunkan Hasil Jagung Manis di AS

Ilustrasi jagung. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 28 November 2022 | 16:45 WIB

Sariagri - Perubahan iklim yang menyebabkan naiknya suhu bumi berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman jagung manis di AS. Penelitian New University of Illinois menunjukkan bahwa panen jagung manis turun secara signifikan akibat panas yang ekstrem selama musim tanam.

"Kenyataannya adalah memproduksi jagung manis, salah satu tanaman biji-bijian paling populer di AS dan juga di dunia, akan lebih sulit di masa depan. Karena itu perlu mengembangkan pendekatan dan teknologi baru untuk membantu tanaman beradaptasi dengan perubahan iklim,” kata Daljeet Dhaliwal, penulis utama studi yang dipublikasikan di Scientific Reports, seperti dilansir thetelegraph.com.

Menurut hasil studi, penurunan produksi jagung manis terutama terjadi di ladang tadah hujan di daerah Midwest. Namun para peneliti menemukan bahwa tingginya suhu saat musim tanam jauh lebih bepengaruh terhadap turunnya produktifitas jagung manis ketimbang rendahnya curah hujan.

Baca Juga: Cuaca Panas Ekstrem Turunkan Hasil Jagung Manis di AS
Kiat Mendukung Ketahanan Pangan di Tengah Perubahan Iklim



"Analisis kami mengungkapkan bahwa perubahan suhu kecil memiliki pengaruh yang lebih besar pada hasil panen dibandingkan dengan perubahan curah hujan kecil untuk kedua lahan tadah hujan dan irigasi di Midwest dan Northwest, tetapi produksi tadah hujan menunjukkan kepekaan yang lebih besar," kata Marty Williams, ahli ekologi USDA-ARS. Dia menambahkan bahwa suhu ekstrim selama pembungaan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup serbuk sari, pembuahan, aborsi kernel, dan proses lainnya.

Salah satu cara untuk mengatasi dampak buruk panas ekstrim terhadap tanaman antara lain adalah memperbaiki sistem irigasi. Tetapi skenario iklim juga memperingatkan bahwa pasokan air dapat berkurang di masa depan. Para peneliti mencatat bahwa jika hasil dan kualitas jagung manis terus menurun karena iklim ekstrem, waktu tanam atau area produksi mungkin perlu diubah untuk menghindari suhu terpanas.

Sementara solusi terbaik belum ditemukan, Program Penelitian Perubahan Global AS memperkirakan bahwa jumlah hari dengan cuaca ekstrim masih akan terjadi dan bertambah panjang. Mereka memprediksi, pada pertengahan abad ini, akan ada 20 hingga 30 hari lagi cuaca dengan suhu di atas 32 derajat Celcius (90 derajat Fahrenheit) di sebagian besar Amerika Serikat.