Mengenal Lumut, Tumbuhan Darat Pertama yang Bertahan Hidup Hingga Saat Ini

Ilustrasi lumut yang ada di pohon (Pexels)

Penulis: Tanti Malasari, Editor: Dera - Selasa, 29 November 2022 | 07:00 WIB

Sariagri - Siapa yang tak mengenal lumut? Tumbuhan hijau ini sering ditemukan pada permukaan lembab.

Hal ini sesuai dengan habitatnya yang dapat tumbuh subur di daerah lembab atau teduh, yang menyediakan air cukup banyak. Biasanya lumut menempel pada pohon, tanah, dan juga bebatuan.

Spesifikasi lumut

Pada dasarnya, lumut termasuk kedalam keluarga Bryophyta dari tumbuhan epifit. Tumbuhan ini memiliki 12.000 spesies yang terdapat di seluruh dunia.

Salah satu diantaranya merupakan tanaman darat yang mengandung spora nonvaskular kecil. Bentuk tubuh tumbuhan ini menyerupai beludru yang warnanya hijau lantaran punya kandungan klorofil.

Secara umum, ukuran lumut sangat kecil dengan tanpa memiliki bunga. Tinggi lumut biasanya hanya sekitar 0,2-10 cm (0,1–3,9 in). Meski demikian, ada beberapa spesies lumut yang ukurannya jauh lebih besar.

Diketahui, Dawsonia merupakan lumut tertinggi di dunia. Spesies ini dapat tumbuh setinggi 50 cm (20 in).

Lumut memiliki talus, yang merupakan bagian dari tubuh lumut sebagai pengganti daun, batang, serta akar. Akar tanaman lumut berupa akar semu atau rizoid.

Fungsi rizoid yaitu sebagai alat untuk melekatkan diri di substrat (tempat melekat serta menyerap zat-zat hara dan air). Hal ini dikarenakan rizoid hanya selebar 1 sel serta tidak memiliki pembuluh angkut, baik floem maupun xilem.

Merupakan tumbuhan purba

Fakta lain menyebutkan, bahwa lumut ini adalah tumbuhan purba dan menjadi tumbuhan terestrial (darat) yang pertama.

Diperkirakan umur lumut sudah mencapai 470 juta tahun. Ia mulai ada selama periode Ordovisium, ketika kehidupan berkembang biak dengan cepat.

Baca Juga: Mengenal Lumut, Tumbuhan Darat Pertama yang Bertahan Hidup Hingga Saat Ini
Meski Menyegarkan, Ini Bahaya Konsumsi Jus Nanas Secara Berlebihan

Salah satu alasan mengapa lumur dapat bertahan dan berkembang sampai saat ini, karena lumut mampu sangat cepat melakukan diversifikasi dikala perubahan iklim yang sangat drastis.

Kondisi tersebut justru dimanfaatkan lumut untuk berevolusi menciptakan bentuk-bentuk baru guna menggantikan posisi tanaman dalam ekosistem.