Biaya Produksi Mahal, Negara Ini Dilanda Krisis Buah dan Sayuran

Ilustrasi - Pasar buah dan sayuran di Turki. (Pixabay)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Dera - Jumat, 2 Desember 2022 | 16:45 WIB

Sariagri - Inggris kini tengah dilanda krisis buah dan sayuran. Sejumlah sayuran seperti mentimun, paprika dan tomat mengalami kekurangan pasokan di supermarket negara itu. Terutama pada tomat yang sangat terpengaruh karena meningkatnya biaya penggunaan efek rumah kaca.

Industri sayuran di Inggris terancam lantaran kekurangan tenaga petani serta biaya produksi yang mahal. Hal ini membuat Inggris harus mengimpor bahan dari luar negeri. Menurut perwakilan Asosiasi Petani Lea Valley, Lee Stiles memperkirakan penurunan angka produksi hingga setengah kuota pada tahun depan.

Ia mencatat 40 orang dari 80 anggota petani memilih tidak menanam sayuran karena mengantisipasi kerugian finansial. Sementara yang lain meninggalkan bisnis sepenuhnya. "Mendukung petani Inggris dengan membayar harga yang wajar tampaknya tidak jadi prioritas supermarket saat ini," katanya, dikutip dari Daily Mail.

Ia juga mengatakan bahwa jumlah produk segar di Inggris telah berkurang hingga setengah kuota pada tahun lalu, tapi konsumen tidak menyadari atau tidak peduli.

"Kami mengambil semua risiko dan (menjual produk tani) dengan harga yang sangat rendah. Kalau harga tidak naik, pasti industri mentimun Inggris tidak akan bertahan," ujarnya.

Bahan baku produksi di sektor tani adalah salah satu pendorong utama kenaikan biaya. Dimana, tercatat naik 165 persen, diikuti pupuk yang naik 40 persen, dan biaya tenaga kerja naik 13 persen.

Baca Juga: Biaya Produksi Mahal, Negara Ini Dilanda Krisis Buah dan Sayuran
4 Arti di Balik Warna-Warni Buah dan Sayuran, Apa Saja?

Pada awal bulan ini, Promar International, sebuah konsultan pertanian, mencatat biaya produksi produk tani di Indonesia telah melonjak 27 persen dari tahun lalu. Di antaranya adalah tomat, apel, brokoli, dan umbi-umbian.

Menurut Martin Emmet, petani dari National Farmers Union menyebutkan bahwa saat ini, produksi buah dan sayuran berada di bawah tekanan terbesar. Menurutnya, hal ini disebabkan kurangnya tenaga kerja, baik secara permanen atau musiman.