Jeruk Siompu, Si Manis yang Kerap Jadi Jamuan di Istana Negara

Ilustrasi buah jeruk. (pixabay)

Editor: Dera - Senin, 23 Januari 2023 | 11:00 WIB

Sariagri - Memiliki ragam manfaat bagi kesehatan, jeruk menjadi komoditas buah terpenting di dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, FAO bahkan menyebutkan pada 2019 produksi jeruk global per tahun telah melampaui 75 juta ton.

Melansir data Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang) Kementerian Pertanian (Kementan) 2020, produksi jeruk lokal telah mencapai 2,5 juta ton per tahun. Hal tersebut menjadikan Indonesia berada di peringkat kedelapan produsen jeruk terbanyak di dunia dengan Brasil, Tiongkok, dan India sebagai tiga besar penguasa jeruk dunia.

Produksi nasional sebanyak 2,5 juta ton itu dihasilkan dari total lahan perkebunan seluas 57.000 hektare (ha). Mayoritas produksi jeruk nasional dikuasai oleh jenis jeruk siam, yaitu sebanyak 70 persen, diikuti jeruk keprok (20 persen), dan jeruk lainnya 10 persen.

Salah satu daerah penghasil jeruk lokal ada di Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Di kabupaten berpenduduk hampir 80.000 jiwa tersebut terdapat satu pulau dengan varietas jeruk endemiknya. Di sana tak hanya dikenal dengan komunitas warga keturunan Portugis bermata biru dan surganya wisata laut, di mana terdapat bentangan pantai pasir putih mengelilingi pulau disertai terumbu karang alaminya.

Di Siompu, pulau berjarak sekitar 40 kilometer barat daya Buton Selatan, itu juga dikenal sebagai penghasil jeruk keprok. Namanya jeruk siompu dan menjadi varietas endemik buah tropis dari pulau berpenduduk 22.000 jiwa. Jeruk siompu memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan buah sejenis asal daerah lain. Buah berbobot 135-200 gram ini rasanya lebih manis dibandingkan dengan hampir semua jenis jeruk unggulan di tanah air. Misalnya, jeruk keprok sumatra, jeruk kalimantan, atau jeruk dari Bali dan Pulau Jawa.

Melansir indonesia.go.id, Pulau Siompu dengan kondisi geografis terdiri dari susunan batu kapur keras dan tajam, tanah kering serta perbukitan adalah surga bagi jeruk siompu. Tampilan fisik jeruk ini saat panen berwarna kuning emas dan daging buah oranye terang. Tekstur kulit buah agak tebal sedikit kasar dan kulitnya mudah dikupas.

Menurut Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Balitbang Pertanian Kementan, jeruk endemik ini telah dimasukkan sebagai jeruk unggulan nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 742/Kpts/TP.240/7/97. Tingkat kemanisan jeruk siompu berada pada skala 11-12 derajat Brix. Satuan ukur derajat Brix, diambil dari nama kimiawan Jerman Adolf Adolph Ferdinand Wenceslaus Brix (1798-1870), dipakai untuk mengukur kualitas kandungan larutan misalnya kadar gula pada jeruk.

Pada Kontes Jeruk Keprok Nasional di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, 2016 lalu, jeruk siompu dinobatkan sebagai jeruk dengan rasa paling manis. Kandungan air pada jeruk siompu lebih sedikit dari jeruk sejenisnya. Karena alasan itu pula buah ini jarang dijadikan minuman segar (juice) dan lebih dipilih sebagai hidangan setelah makan oleh warga Buton Selatan.

Baca Juga: Jeruk Siompu, Si Manis yang Kerap Jadi Jamuan di Istana Negara
Mengenal Jeruk Kingkit yang Dikenal Ampuh Mengobati Penyakit Batuk

Bupati Buton Selatan La Ode Arusani menyebutkan karena keistimewaan dan rasa manisnya, jeruk siompu diketahui pernah menjadi buah-buahan untuk jamuan kenegaraan di Istana Negara pada 1990-an. Selain itu, jeruk siompu merupakan primadona tanaman buah di Pulau Buton dan Kabupaten Buton Selatan.

Pada laporan Badan Pusat Statistik Buton Selatan berjudul "Statistik Daerah Buton Selatan 2020" terbitan 28 Desember 2020. Disebutkan bahwa produksi jeruk varietas ini menduduki urutan kedua terbesar dari komoditas buah-buahan asal Buton Selatan, setelah pisang. Sebanyak 495,3 ton jeruk siompu dihasilkan dari bumi Buton Selatan pada 2019 di mana 290 ton di antaranya dipasok dari Pulau Siompu dan sisanya dari kecamatan lain, seperti Kadatua.