50 Hektar Lahan Tidur di Lombok Jadi Ladang Hortikultura

Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Tiga Pilar TNI- Polri, berinovasi menggebrak 50 Hektar Lahan Tidur. (Sariagri/ Yongki)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 15 Maret 2021 | 14:10 WIB

SariAgri -  Pemerintah Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Tiga Pilar TNI- Polri, berinovasi menggebrak 50 Hektar Lahan Tidur untuk dimanfaatkan menjadi lahan produktif pada tanaman Hortikultura.

Selain untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di tengah pandemi, inovasi ini dilakukan sebagai instrumen ketahanan pangan daerah.

Penjabat (Pj) Kepala Desa Sokong I Nengah Suarjana, pada saat melaksanakan acara panen Tomat Kelompok Berkah Bersama Didusun Lendang Galuh, Desa Sokong, mengatakan mewabahnya Covid-19 nyaris meluluh lantahkan sendi perekonomian masyarakatnya.

Tidak hanya itu, berbagai dinamika muncul salah satunya yaitu tentang ancaman keamanan dan ketertiban masyarakat (Khambtibmas) serta masayarakat yang kehilangan pekerjaannya.

Dijelaskan Suarjana, implementasi ketahanan pangan sebagai langkah alternatif untuk mengajak masayarakat yang hilang pekerjaannya untuk kembali memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam. Terlebih saat ini sekitar 1,3 hektar dari 5 hektar lahan mulai digeberak dengan tanaman Holtikultura jenis Tomat Servo dan Cabai Rawit.

"Banyaknya lahan tidur itu kita gebrak dengan tanaman Holti jenis Tomat dan Cabai, Alhamdulillah (-red) kini sudah kita panen untuk 5 hari kedepan cabai panen juga". Jelasnya kepada Sariagri, Senin (15/3/2021).

Lebih jauh dirinya menjelaskan, guna menunjang infrastruktur tanaman Holti milik warga tersebut, pihaknya pada tahun ini mengaktifkan kembali mesin bor dengan menambah pemasangan jaringan pipa ke lahan pertanian milik warga dan menyisir 50 Hektar lahan yang dicanangkan untuk difungsikan.

"Kami sudah diskusikan dengan anggota DPR juga dan ditanggapi positif, tahun ini Insa Allah kita mulai program kan", jelasnya

Sejalan dengan itu, petugas penyuluh lapangan (PPL) Dinas Ketehanan Pangan dan Pertanian (DKPP) untuk Desa Sokong, Dody Cahyanto, menjelaskan minat masyarakat bercocok tanam holtikultura masih minim, namun pelan tapi pasti, masayarakat kini sudah mulai tertarik dan mencoba berinovasi ke tanaman Holti. Hal ini dibuktikan dengan pemanfaatan lahan tidur seluas 1,3 hektar dengan tanaman cabai, tomat dan melon.

Selain tanaman Holti, guna mencegah menjamurnya penyetokan oleh pengepul, berdasarkan data yang ada luas lahan persawahan produktif mencapai 153 hektar dan kini sebagaian beralih fungsi.

Pada lahan pertanian jenis padi, setiap tahun panen produksi per- Hektar padi sebanyak 918 ton atau 6 ton disetiap hektar lahan, hasilnya juga diolah kelompok Lumbung Tani Desa Sokong mulai dari panen, penjemuran, penggilingan hingga pengepakan.

"Masayarakat kini mulai mengelola hasil padi mereka, mulai dari panen, penjemuran hingga pengepakan. Kita berharap nantinya ada akses pasar yang lebih menjamin stabilitas harga", urainya

Mendampingi kepala desa Babinsa Desa Sokong, Sertu Abdurrahman Daeng, menjelaskan kemandirian warga atas ketahanan pangan ini tidak lepas atas pendamping yang selama ini dilakukan.

Dirinya bersama Pemerintah desa sebatas mendorong agar warga memanfaatkan lahan dan pekarangan mereka, untuk kesediaan bibit sendiri selain warga mengadakan secara Swadaya dirinya bersama PPL memfasilitasi warga ke dinas pertanian.

"Ketahanan Pangan adalah tugas TNI dan saat ini kami bersama Pemdes Sokong dan PPL mendorong warga untuk memaksimalkan lahan dan pekarangan mereka, tidak hanya Holti juga tanaman buah seperti kelengkeng, anggur, dan melon ditanam", paparnya.

Baca Juga: 50 Hektar Lahan Tidur di Lombok Jadi Ladang Hortikultura
Komisi IV DPR Apresiasi Langkah Cepat Kementan Atasi Persoalan Kedelai

Di kesempatan yang sama, Bhabinkamtibmas Bripka Kurniawan menjelaskan meski di tengah pandemi, warga Sokong mampu bertahan dengan konsisten menjaga keamanan dan ketertiban dengan cara bercocok tanam, sadar tidak sadar macetnya pariwisata akibat pandemi menimbulkan banyak PHK sehingga resistensi terhadap gangguan Khambtibmas ada.

"Secara umum masayarakat menaati protokol kesehatan (Prokes) dan 5 M ini komitmen bersama dan harus kita galakkan", pungkasnya.

Video Terkait