Siasati Kondisi Ekonomi, Petani Melon Ponorogo Buat Pupuk Organik

Petani membuat pupuk organik karena mahalnya pupuk pabrik. (Foto: Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Rabu, 7 Juli 2021 | 18:50 WIB

SariAgri - Menyiasati kondisi ekonomi yang tidak menentu akibat pandemi covid-19 berkepanjangan, Rudi Sugiarto, petani buah melon asal Desa Tatung, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mencoba berinovasi.

Melalui terobosan pupuk organik buatannya,  petani kini tidak lagi harus bergantung 100 persen pada kebutuhan pupuk kimia. Bahkan inovasi yang dihasilkannya diklaim bisa menekan biaya produksi hingga 50 persen lebih.

“Selain lebih murah, pupuk organik ini juga dapat dibuat sendiri di rumah. Dengan demikian petani sudah tidak lagi dipusingkan dengan mahalnya harga pupuk dan kelangkaannya,“ kata Rudi.

Inovasi pupuk organik buatannya sudah diterapkan pada lahan tanaman melon miliknya sejak beberapa bulan lalu dan hasilnya sangat memuaskan. Dari luas lahan petak 40 meter kali 20 meter, sebelumnya hanya menghasilkan 10 ton saja, kini setelah dikombinasi dengan pupuk organik mampu dipanen 16 ton.

“Alhamdulillah panen meningkat 50 persen lebih. Saat masih bergantung pupuk kimia panen yang diperoleh sekitar 10 ton. Kini setelah sering menggunakan pupuk organik, produksi meningkat menjadi 16 ton,” kata dia. 

Terobosan membuat pupuk organik, kini sudah ditiru oleh banyak petani lainnya. Dibantu dua pekerjanya, ia tiap seminggu sekali membuat sendiri pupuk organik. Bahan uang dibutuhkan kotoran ternak kambing dicampur bersama dengan limbah sayuran maupun buah dan ditambahkan enzim serta air.

“Saya biasa menggunakan kotoran kambing, buah-buahan seperti pepaya dan kentang serta beberapa bahan lain termasuk mikrobakteri. seluruh bahan tersebut lalu dicampur menjadi satu dalam wadah tong dan ditutup rapat agar terjadi proses fermentasi. setelah 37 hari cairan hasil fermentasi ini siap digunakan sebagai pupuk,” ucap dia.

Menurut Rudi dengan cara organik ini dapat menekan biaya produksi sekecil mungkin. Selain lebih murah penggunaan pupuk organik juga bermanfaat menjaga kesuburan tanah serta lebih sehat dan ramah lingkungan.

Sebagai pembandingnya untuk sepetak lahan miliknya, biasa menggunakan pupuk kimia 3 kuintal, namun dengan adanya pupuk organik ini, penggunaan pupuk kimia bisa ditekan menjadi 150 kilogram saja.

“Selama ini petani menggantungkan penggunaan pupuk kimia. Kini dengan adanya pupuk organik, kebutuhan pupuk kimia bisa dihemat lebih dari 50 persen termasuk pestisidanya juga 50 persen,“ pungkasnya.

Video Terkait