Akibat Perubahan Iklim, Tanaman Poison Ivy Lebih Beracun

ilustrasi tanaman Poison Ivy. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 27 Juli 2021 | 20:00 WIB

SariAgri - Peningkatan suhu bumi akibat perubahan iklim bukan hanya memicu anomali cuaca. Namun juga berdampak besar bagi kehidupan flora dan fauna.

Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah membuat racun tanaman poison ivy semakin berbahaya. Penelitian itu menyebut, tanah yang lebih hangat dan kenaikan tingkat CO2 menyebabkan racun poison ivy meningkat dua kali lipat.

Kesimpulan itu diperoleh dari penelitian selama enam tahun para ilmuwan di Duke University, yang telah diterbitkan. Melansir laporan Inhabitat, studi itu menjelaskan bagaimana racun poison ivy menjadi dua kali lipat ketika terkena karbon dioksida tingkat tinggi, tingkat yang diprediksi oleh para ilmuwan akan terjadi di atmosfer pada tahun 2050.

Tidak hanya membuat tanaman semakin besar, para ilmuwan menyimpulkan bahwa urushiol , minyak yang bertanggung jawab atas reaksi alergi terkenal racun ivy, juga tumbuh subur akibat CO2.

Jacqueline Mohan, seorang profesor ekologi di University of Georgia, juga telah mempelajari racun tanaman poison ivy. Lewat eksperimennya di hutan seluas 4.000 hektar di Massachusetts yang dikelola oleh Universitas Harvard,  ia menduga bahwa kenaikan suhu tanah juga merupakan keuntungan bagi tanaman beracun.

Hasil awal penelitiannya menunjukkan bahwa peningkatan suhu tanah 9 derajat Fahrenheit dapat mempercepat pertumbuhan racun tanaman ivy sebesar 149%. “Itu luar biasa. Poison ivy mungkin lebih menyukai pemanasan tanah daripada menyukai CO2." kata Mohan, seperti dilansir Grist.

Poison ivy (Toxicodendron radicans) merupakan tanaman yang hidup di wilayah subtropis. Di alam liar, tanaman ini tumbuh merambat atau membentuk semak dan cukup beracun. Di Amerika Serikat, dikabarkan lebih dari 350.000 orang terkena efek dari tanaman ini setiap tahunnya.

Baca Juga: Akibat Perubahan Iklim, Tanaman Poison Ivy Lebih Beracun
Empat Langkah yang Bisa Dilakukan untuk Pembatasan Kenaikan Suhu Global



Para peneliti mengingatkan agar mereka yang suka mendaki atau berwisata di alam liar, berhati-hati dan menghindari tanaman ini. “Saat berhadapan dengan alam, jadilah cerdas,” kata Mohan.

Video terkait:

Video Terkait