Frustrasi! Harga Cabai Terjun Bebas di Pasaran, Petani Ini Tuangkan Kekesalan dengan Merusak Tanaman Siap Panen

Petani Cabai kesal hingga mencabut tanaman yang siap panen. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 1 September 2021 | 07:00 WIB

Sariagri - Kecewa lantaran harga jual di pasaran anjlok, para petani di Desa/Kecamatan Kencong Kabupaten Jember, Jawa Timur, meluapkan kekesalan dengan mencabuti tanaman cabai.

Petani mengeluhkan harga cabai rawit saat ini yang terjun bebas hingga menyentuh angka Rp5.000 per kilogram (kg). Padahal sekarang tanaman cabai tengah memasuki masa panen raya dengan kualitas baik dan melimpah.  

Selain menumpahkan emosi dengan mencabuti batang tanaman, sebagian petani frustrasi dan mengekspresikan kemarahan melalui sikap acuh terhadap perawatan cabai. Akibatnya kondisi lahan tanaman cabai banyak yang dibiarkan mengering dan buahnya pun banyak yang rontok berjatuhan.

“Lahan cabai milik petani sebelah ini sudah dicabuti semua batang tanamannya. Banyak yang kecewa dengan harga cabai yang anjlok mencapai Rp5.000 per kilo. Kalau punya saya, sengaja dibiarkan rontok dan membusuk, buat apa dipungut. Lha wong harganya murah sekali, “ ungkap salah seorang petani cabai, Sugiono kepada Sariagri, Selasa (31/8/2021).

Sugiono menyebut petani baru bisa untung jika harga cabai rawit laku dikisaran Rp15.000 hingga Rp20.000/kg.  Sebab jika hanya bertengger di kisaran Rp5.000/kg petani dipastikan merugi.

Hal ini dikarenakan ongkos panen cabai tiap buruh mencapai Rp70.000 dengan hasil petik minimal 10 kg. Sedangan harga jual cabai untuk 10 kg hanya mencapai Rp50.000.

“Ya jelas rugi Rp20.000, itu selisih dari hitungan membayar buruh Rp70.000, sedangkan harga jual 10 kilo cabai hasil petik buruh hanya laku Rp50.000 dan itu belum bayar ongkos sewa angkut cabai. Jelas tidak sebanding dengan pendapatan, “ keluhnya.

Sugiono mengatakan di Desa Kencong, ditaksir luas lahan cabai mencapai lebih dari 20 hektar. Ia dan ratusan petani cabai di desa ini sepakat untuk tidak melakukan panen dan dibiarkan membusuk di lahan.

“Bisa dibilang ini sebagai bentuk protes kami kepada keadaan. Pandemi ini sudah membuat kami terpuruk, malah diperparah dengan anjloknya harga cabai di pasaran, “ tandasnya.

Video Terkait



Baca Juga: Frustrasi! Harga Cabai Terjun Bebas di Pasaran, Petani Ini Tuangkan Kekesalan dengan Merusak Tanaman Siap Panen
Tanaman Cabai Banyak yang Mati Karena Penyakit, Membuat Harganya Melambung