Kisah Warga Koja Sulap Tempat Pembuangan Sampah Jadi Lahan Produktif Urban Farming

Dani Arwanto, ketua poktan gang hijau cemara 01, Koja, Jakarta Utara (Sariagri/Usman)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 2 September 2021 | 17:00 WIB

Sariagri - Kegiatan urban farming atau pertanian perkotaan memang semakin diminati masyarakat dalam beberapa tahun belakangan ini. Kegiatan ini dianggap cocok bagi lingkungan perkotaan yang ingin menjalani gaya hidup sehat.

Seperti halnya yang dilakukan oleh kelompok tani (poktan) Gang Hijau Cemara 01 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mereka sukses mengubah lahan tempat pembuangan sampah menjadi lahan pertanian yang cantik dengan konsep urban farming.  Awalnya kegiatan Urban farming di Gang Hijau Cemara 01 di pelopori oleh remaja karang taruna RW 01 yang di dukung oleh ketua RW dan RT di sana.

Awalnya Wilayah Kumuh

Wilayah kumuh di Koja, Jakarta utara (Dok. Pribadi)
Wilayah kumuh di Koja, Jakarta utara (Dok. Pribadi)

Ketua Poktan Gang Hijau Cemara 01, Dani Arwanto menjelaskan bahwa sebelum adanya lahan urban farming, lahan tersebut merupakan tempat pembuangan sampah dan tempat beternak bebek dan ayam. Selain itu, tingkat penyakit seperti demam berdarah juga tinggi karena banyaknya genangan air yang kurang terawat.

"Awal kami membangun di sini karena memang wilayah ini dulu ada slogan wilayah kumuh. Ini semacam teguran buat saya dan ketua RW. Ini juga menjadi tantangan," katanya

"Akhirnya dengan perlahan mengajak warga untuk sama-sama merubah semuanya. Yang tadinya wilayah kumuh menjadi asri dan produktif. Alhamdulillah sampai sekarang," tambahnya.

Lahan Produktif Urban Farming

Urban farmin di Koja, Jakarta Utara (Dok. Pribadi)
Urban farmin di Koja, Jakarta Utara (Dok. Pribadi)

Dani terus mengajak warganya untuk merubah pola pikir ke arah yang lebih baik, meskipun tidak mudah dan penuh dengan kesabaran. Hingga akhirnya berhasil mengembangkan urban farming dengan berbagai macam sayuran, buah, tanaman hias dan beberapa ikan.

"Awalnya saya juga niatnya sedekah oksigen. Memang tidak mudah mengajak warga merubah pola pikir tapi bisa dengan kesabaran," ujarnya.

Kendala Urban Farming

Dani mengakui terdapat kendala selama melakukan kegiaran urban farming, seperti tanah dan air. Menurutnya tanah di wilayahnya tersebut kurang cocok untuk lahan pertanian.

"Tantangan di Jakarta utara, kami gapunya tanah untuk tanam, kita harus beli. Tanah jadi kendala kami disini, kalau kita pacul itu bawahnya kalo gak sampah plastik ya kulit kerang," ucapnya.

Sedangkan kendala air, Dani mengungkapkan sulit mendapat air yang cocok untuk tanaman hidroponik. Pasalnya air di lahan tersebut memiliki kandungan ppm terlalu tinggi, mengandung garam, dan zat besi.

"Selain tanah, disini air juga jadi kendala. Air disini sebenarnya ga layak untuk hidroponik karena kandungan ppm-nya terlalu tinggi. Ya kami paling tunggu air PAM yang diendapkan atau air AC. Itupun disini kan jarang yang pake PAM, makanya selalu kita juga beli air gerobakan juga," tuturnya.

Mendapat Support

Pada 2017 lalu, Dani mendapat support dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Provinsi Jakarta Utara berupa sarana dan pra sarana pertanian, seperti pupuk, pot, media tanam dan bimbingan.

"Dinas KPKP waktu itu mengajarkan kami untuk bekerja sama sistem kolaborasi dari semua pihak, sehingga membentuk suatu lingkungan yang baik disitu. sampai saat ini kan tetap kami merangkul untuk semua pihak berkolaborasi disini untuk membangun wilayah kami disini. Alhamdulillah," pungkasnya.

Video Terkait



Baca Juga: Kisah Warga Koja Sulap Tempat Pembuangan Sampah Jadi Lahan Produktif Urban Farming
Petani Milenial Asal Cianjur Sukses Kelola Bisnis Pertanian