Kisah Pemuda Putus Kuliah yang Kini Sukses Menjadi Petani Jamur Tiram

Darul Arifin, petani jamur tiram asal Tuban.(Youtube Pemoeda Berdikari)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 9 September 2021 | 10:00 WIB

Sariagri - Mengalami putus kuliah karena di drop out (DO) dari kampus tidak menyurutkan semangat Darul Arifin untuk terus berusaha. Pemuda asal Desa Genaharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini memilih membangun usaha budidaya jamur. 

“Pada tahun 2013 itu saya skripsian baru Bab I tapi dikerjain sambil ikut bantu orang budidaya jamur. Pas balik ke rumah, mau lanjutin buat skripsi tapi ternyata udah di DO,” ujar Darul dikutip dari Channel YouTube Pemoeda Berdikari.

Meski awalnya bingung harus melakukan apa setelah putus kuliah, Darul berpikir untuk memulai membangun usaha budidaya jamur. Alasannya karena sebelumnya sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman ketika membantu orang budidaya jamur.

“Tahun 2014-2015 itu saya nekat untuk mencoba buat sendiri usaha budidaya jamur tiram dengan biaya yang didapat dari pinjaman bank,” ungkap Darul.

Pada awalnya, Darul memanfaatkan bekas kandang sapi berukuran 3 x 8 meter untuk budidaya jamur tiram. Setelah sekian lama usahanya berkembang sehingga bisa menambah kapasitas ruang produksi.

Menurut Darul, potensi pasar untuk jamur tiram di daerah Tuban Kota dari usaha budidaya jamur yang dilakukannya bisa mencapai 150-180 kilogram per hari.

“Potensi pasar untuk jamur tiram untuk wilayah Tuban Kota, pagi saja bisa 70 kilogram, kalau sore ada lagi 80-100 kilogram,” katanya.

Darul menjelaskan, dalam budidaya jamur tiram dibutuhkan media tumbuh atau disebut dengan baglog yang terdiri dari serbuk kayu, bekatul atau menir, kapur pertanian serta molase.

Menurut dia, serbuk kayu paling bagus kayu sengon karena mengandung banyak nutrisi untuk pertumbuhan jamur. Molase dibutuhkan untuk mempercepat pengomposan media tumbuh jamur sehingga miselium jamur cepat berkembang. Kapur pertanian berguna untuk menetralkan pH media hingga di angka 6–7.

“Bisa menggunakan kapur dolomit, kapur pertanian atau kapur gamping. Kapur digunakan untuk mengatur pH, untuk menetralkan dari media jamur supaya di bagusnya 6-7,” kata Darul.

Kadar air media untuk pertumbuhan jamur yang optimal berkisar 50 – 60 persen.

Darul membeberkan kelebihan dari jamur tiram yang dibudidayakannya di Tuban. Menurut dia, jamur tiram asli Tuban memiliki tekstur yang lebih kuat dan tidak cepat lembek sehingga tahan disimpan dalam suhu ruang hingga lebih dari tiga hari.

“Kalau diamati, jika jamur dari dataran tinggi dibawa ke Tuban itu dalam 1-2 hari sudah kelihatan lembek, beda dengan jamur asli Tuban karena sudah terbiasa dengan alam tuban yang agak panas, hingga 3 hari pun masih segar,” katanya.

Sedangkan kekurangan budidaya jamur tiram di Tuban yaitu produktivitas tidak sebanyak jamur tiram yang dibudidayakan di dataran tinggi.

“Jadi secara kualitas jamur di Tuban lebih menang, tapi dari segi produksi, kuantitas masih kalah dengan yang di dataran tinggi,” katanya.

Saat ini, usaha budidaya jamur tiram Darul terus berkembang dengan pemasaran secara offline maupun online melalui aplikasi marketplace, media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Baca Juga: Kisah Pemuda Putus Kuliah yang Kini Sukses Menjadi Petani Jamur Tiram
Kisah Petani Bogor yang Merasakan 'Manisnya' Bisnis Budidaya Pepaya California

Darul juga mengajak para santri dan generasi muda di pondok pesantren sekitar untuk ikut budidaya dan memasarkan jamur tiram.

“Usaha yang saya lakukan karena tidak kesengajaan. Jadi apa yang saya lakukan ini adalah ibadah. Kami juga ajak para santri untuk budidaya dan pasarkan jamur bersama kami untuk mendapatkan keuntungan bersama-sama. Hidup ini tidak sekedar cari uang tetapi juga bisa bermanfaat bagi orang banyak,” tandasnya.

Video terkait:

 

Video Terkait