Untuk Sembuh dari COVID-19, Masyarakat Negara Ini Konsumsi Tanaman Herbal dan Ganja

Pembudidaya tanaman ganja. (Foto: Medical Express)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 13 Oktober 2021 | 15:10 WIB

Sariagri - Pandemi COVID-19 membuat beberapa orang putus asa, salah satunya warga Uganda. Pasalnya, rumah sakit negara itu mulai membebankan biaya USD1.000 kepada pasien pengidap virus corona per hari, terutama bagi mereka yang membutuhkan oksigen medis.

Melihat hal demikian, warga Uganda beralih menggunakan ganja dan ramuan lokal lainnya untuk mengobati COVID-19. Bahkan mereka juga menggunakan berbagai jenis daun dan rumput untuk mengukus sendiri, dimana menurut beberapa ahli medis sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Ketika saya pergi ke salah satu rumah sakit swasta dan didiagnosis mengidap COVID-19, mereka mengatakan kepada saya untuk membayar 3,5 juta Uganda Shilling atau USD1.000 di muka, sebelum dirawat," kata David Sempeke, seorang penduduk distrik Wakiso, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

"Karena saya tidak dapat mengumpulkan jumlah tersebut, saya kembali ke rumah dan mulai menggunakan ganja, dan ramuan herbal lainnya. Seorang tabib tradisional mengatakan kepada saya untuk menggunakan ganja. Saya juga pernah mendengar dari mantan calon presiden Kizza Besigye bagaimana membuat ramuan. Setelah 10 hari, saya sembuh," tambahnya.

Besigye yang tiga kali mencalonkan diri sebagai presiden, namun selalu kalah dari petahana Yoweri Museveni, beberapa kali memberi tahu masyarakat cara membuat racikan obat anti COVID-19.

Apa yang disebut resepnya untuk penyakit itu adalah bubuk jahe, cabai merah, bawang putih, bawang merah dan lemon, di mana semua direbus dalam air, dan diminum dua kali sehari.

Seorang warga distrik Gulu di Uganda utara, Melda Atim mengatakan keluarganya menggunakan air rebusan daun ganja untuk mencegah terpapar Covid-19. “Kami juga mengambil uap dari rerumputan seperti bombo, kyayi suubi, mujaaja, lumbugu, dan daun jeruk,” ujarnya,

Pakar medis telah memperingatkan warga Uganda agar tidak menggunakan gulma dan obat herbal lain yang belum teruji, termasuk ganja, untuk mengobati COVID-19. Penelitian Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa banyak orang di seluruh negeri telah merebus berbagai gulma, menghirup dan meminum ramuannya. Di antara yang paling banyak digunakan adalah ganja.

Banyak video dan audio telah beredar di media sosial dengan beberapa orang mengklaim bahwa ganja dan herbal lainnya dapat secara efektif menyembuhkan COVID-19. Secara religius, banyak orang Uganda menanggapi pesan itu dengan serius.

Menurut Andrew Zaake, seorang praktisi medis swasta di Kampala, konsumsi ganja dan gulma tak dikenal lainnya telah meningkatkan kasus keracunan. “Berbahaya bahwa beberapa orang menggunakan gulma untuk mengobati Covid-19," ucapnya.

Baca Juga: Untuk Sembuh dari COVID-19, Masyarakat Negara Ini Konsumsi Tanaman Herbal dan Ganja
Kelebihan dan Kekurangan Molnupiravir yang Diklaim Sebagai Obat COVID-19

Diana Atwine, sekretaris tetap di Kementerian Kesehatan, memperingatkan warga Uganda agar tidak menggunakan ganja dan herbal lain yang belum diteliti untuk mengobati Covid-19.

“Kami belum melihat makalah penelitian yang mengatakan ganja dan herbal lainnya mengobati Covid-19. Untuk alasan itu, oleh karena itu, kami tidak dapat merekomendasikan ganja untuk pengobatan Covid-19," tukasnya.

Video Terkait