Sangat Menguntungkan, Tumpang Sari Tanaman Alpukat di Kebun Kopi Jadi Pilihan

Hasil tumpang sari tanaman alpukat di lahan kopi warga Desa Suka Mulya, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat.(Sariagri/Iwan K)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 15 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sariagri - Warga Desa Suka Mulya, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat mulai mengembangkan tanam tumpang sari beragam jenis tanaman dalam satu lahan perkebunan.

Sejak beberapa tahun terakhir, Sucipto (40) mengembangkan tumpang sari tanaman pisang Cavendish dan alpukat di lahan kopinya yang seluas kurang lebih dua hektare.

Menurut Sucipto, alpukat sangat cocok dikembangkan di daerah yang memiliki cuaca sedang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.

Dari percobaan itu, lanjut Sucipto, alpukat merupakan komoditas yang bisa menghasilkan keuntungan cukup besar. Jika kopi hanya panen satu kali, alpukat bisa panen dua kali setahun.

Menurut dia, sejak tujuh tahun lalu harga alpukat yang ditanam menumpang justru bisa bersaing dengan harga kopi sebagai tanaman utama.

Dari 200 batang pohon alpukat jenis mentega, Sucipto bisa mendapatkan hingga 9 ton sekali panen.

“Harga alpukat juga cukup stabil, antara Rp15 ribu-Rp16 ribu jika panen banyak dan Rp17 ribu-Rp18 ribu jika panennya sedikit. Hasilnya lumayan bisa bantu biaya sekolah anak-anak,” ujarnya, Kamis (14/10/2021).

Baca Juga: Sangat Menguntungkan, Tumpang Sari Tanaman Alpukat di Kebun Kopi Jadi Pilihan
Budidaya Alpukat Pameling, Ibu Rumah Tangga Ini Kantongi Rp30 Juta Sekali Panen

Para pengepul juga sangat diuntungkan dengan alpukat itu. Menurut Satria, salah satu pengepul di Suka Mulya, dirinya sudah mulai mengirim alpukat ke Jakarta hingga 5 ton.

“Jika dikalkulasi, hasil alpukat dari Desa Suka Mulya saja bisa mencapai lebih dari 100 ton per tahun. Karena saya bukan satu-satunya pengepul disini,” pungkasnya.

Video terkait:

 

Video Terkait