Awalnya Iseng, Kini Khafid Sukses Bertani Hidroponik Beromzet Belasan Juta per Bulan

Rahmatul Khafidl, petani hidroponik asal Semarang (Dok.Pribadi)

Penulis: Rashif Usman, Editor: M Kautsar - Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:00 WIB

Sariagri - Menjalani profesi petani memang tidak bisa dipandang sebelah mata beberapa tahun belakang ini. Pasalnya, lahan pertanian yang bisa dikelola dengan baik dan perencanaan yang matang maka seseorang bisa meraup keuntungan besar.

Seperti halnya yang dilakukan Rahmatul Khafidl, seorang petani milenial asal Semarang yang sukses sukses bertani hidroponik kantongi omzet belasan juta per bulan.

Terjun ke hidroponik

Khafid bercerita awalnya ia membangun satu meja hidroponik karena iseng mencoba di November 2019. Dari satu meja tersebut mulai terlihat hasil panen dan dibagikan ke tetangga.

"Awalnya cuman iseng aja punya satu instalansi bikin sendiri, terus lama kelamaan hasilnya panen pertama itu bagus, cuma memang ada sedikit masalah terkait jarak tanam, sinar matahari dan lain-lain. Tapi alhamdulillah sudah bisa dipanen dan dibagikan ke tetangga-tetangga," kata Khafid kepada Sariagri.

Kemudian Khafid mulai menambah satu meja hidroponik lagi yang ia taruh di atas rumah (rooftop). Total ia memiliki 500 lubang tanam saat itu.

"Mah mulai dari situ, diawal-awal tahun 2020 mulai melihat peluang bisnisnya. Dilihat-lihat di Facebook juga komunitasnya sudah banyak orang yang menggeluti hidroponik. Akhirnya di Maret 2020 berani buat greenhouse tapi gak besar ada sekitar 700 lubang tanam pembesaran semua, belum ada (meja) peremajaan," ujarnya.

Dari satu greenhouse, lanjut Khafid, ternyata masih dirasa kurang karena permintaan konsumen yang terus naik. Hingga akhirnya, ia memiliki total 5 greenhouse dengan titik 8.000-9.000 lubang tanam.

Hidroponik Sistem NFT

Kini, Khafid dalam budidaya hidroponiknya menggunakan sistem Nutrient Film Technique (NFT). Menurutnya, dengan sistem NFT maka debit air tidak terlalu kencang sehingga bisa menghemat biaya perawatan.

"NFT semua, alasannya karena pertama debit air bisa ga terlalu kenceng, jadi kapasitas pompa juga gausah pake yang terlalu besar, karena kalau pakai pompa yang terlalu besar kan pertama listrik kedua harganya mahal," tuturnya.

"Jadi kelebihannya NFT dibanding DFT itu salah satunya debit airnya bisa kecil. Satu liter per menit itu masih sanggup tanaman masih oke, tapi kalau DFT debit air satu liter per menit tanaman bisa layu apalagi pas panas-panasnya kayak gini," sambungnya.

Dengan total lima greenhouse milik Khafid, ia membudidayakan beberapa jenis komoditas sayuran, seperti selada, kangkung, pakcoi, sawi pagoda, bayam selada romain dan kale. Namun, jenis sayuran yang paling banyak ia tanam adalah selada sekitar 80-90 persen.

"Yang paling dominannya 80-90 persen itu di selada, karena memang harus panen tiap hari itu selada. kalau sayuran yang lain disediakan itu pas ada tamu, atau tiba-tiba orang mau beli bibit. Permintaan konsumenku masih banyak di selada yang harus tiap hari panen, jadi tanamanya selada," jelasnya.

Penjualan dan Omzet

Bicara penjualan, Khafid kini menjualnya ke beberapa outlet dagangan, seperti pedagang kebab, burger, gado-gado, dan juga restoran berkonsep all you can eat.

Sedangkan omzet, Khafid mengakui meraup omzet yang fluktuatif karena terpengaruh oleh musim dan kualitas benih. Khafid mengungkapkan bisa meraup omzet berkisar belasan juta per bulan.

Baca Juga: Awalnya Iseng, Kini Khafid Sukses Bertani Hidroponik Beromzet Belasan Juta per Bulan
Kisah Mantan Pedangdut Cantik Jadi Petani, Dapat Rp30 ribu Sehari dari Panen Daun Bawang

Rencana Kedepan

Dengan 8-9 ribu lubang tanam, ke depannya Khafid ingin membulatkannya hingga 10 ribu lubang tanam. Setelah itu ia ingin menjadikan kebunnya sebagai wahana edukasi bagi orang banyak.

"Pengen jadi tempat orang belajar dan refreshing banyak orang. Tujuanku awal membuat kebun itu sebenarnya itu, ingin mendatangkan sebanyak-banyaknya orang untuk belajar," pungkasnya.

Video Terkait