Mengenal Aeroponik, Sistem Bercocok Tanam di Udara Tanpa Tanah

Ilustrasi tanaman aeroponik (wikimedia)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 29 Oktober 2021 | 14:20 WIB

Sariagri - Bercocok tanaman merupakan salah satu hobi yang banyak dilakukan sebagian besar masyarakat Tanah Air selama pandemi COVID-19. Kegiatan ini dipercaya mampu menghilangkan penat selama di rumah saja.

Ada berbagai cara yang bisa dipakai untuk menanam sayuran di rumah terutama bagi orang yang rumahnya memiliki halaman yang tidak terlalu luas. Salah satunya adalah teknik bercocok tanaman secara aeroponik.

Aeroponik merupakan suatu cara bercocok tanam sayuran di udara tanpa penggunaan tanah, nutrisi disemprotkan pada akar tanaman, air yang berisi larutan hara disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Akar tanaman yang ditanam menggantung akan menyerap larutan hara tersebut. Air dan nutrisi disemprotkan menggunakan irigasi sprinkler, dikutip dari laman cybex pertanian.

Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponus yang berarti daya. Artinya, sistem ini merupakan suatu tipe hidroponik dengan cara memberdayakan air. 

Manfaat Aeroponik

Bercocok tanam dengan cara satu ini dapat memberikan manfaat bagi petani yang tidak mempunyai lahan, karena sistem ini tidak membutuhkan tanah, tetapi media tanam yang berupa styrofoam yang akarnya menggantung di udara. Sehingga bisa dijadikan sebagai lahan di pekarangan rumah.

Salah satu kunci keunggulan budidaya dengan sistem ini adalah oksigenasi dari tiap butiran kabut halus larutan hara yang sampai ke akar. Selama perjalanan dari lubang sprinkler hingga sampai ke akar, butiran akan menambat oksigen dari udara hingga kadar oksigen terlarut dalam butiran meningkat.

Dengan demikian proses respirasi pada akar dapat berlangsung lancar dan menghasilkan banyak energi. Selain itu dengan pengelolaan yang terampil, produksi dengan sistem ini dapat memenuhi kualitas, kuantitas dan kontinuitas.

Kelebihan Sistem Aeroponik

- Sistem satu ini dapat membantu lingkungan dengan menghemat air.

- Mengurangi jumlah tenaga kerja manusia yang terlibat.

- Dengan akarnya yang ada di udara, tanaman menerima lebih banyak oksigen.

- Oksigen tambahan yang tanaman terima dapat meringankan pertumbuhan patogen berbahaya.

- Tanaman dapat memanfaatkan karbon-dioksida yang kaya oksigen di udara untuk melakukan fotosintesis.

Cara Kerja Sistem Aeroponik

Penggunaan sprinkler dapat menjamin ketepatan waktu penyiraman, jumlah air dan keseragaman distribusi air di permukaan tanah secara terus-menerus selama produksi tanaman dengan masukan tenaga kerja rendah.

Cara tersebut dapat menciptakan uap air di udara sekeliling tanaman serta memberikan lapisan air pada akar, sehingga menurunkan suhu sekitar daun dan mengurangi evapotranspirasi.

Sistem pancaran atau pengabutan dapat diatur secara intermittend, nyala-mati (on-off) bergantian menggunakan timer, asal lama mati (off) tidak lebih dari 15 menit karena dikhawatirkan tanaman akan layu.

Bila pompa dimatikan, butiran larutan yang melekat pada akar dapat selama 15 sampai 20 menit. Pancaran atau pengabutan juga dapat hanya diberikan pada siang hari saja. Namun, cara ini kurang dianjurkan karena kesempatan pemberian nutrisi pada tanaman menyusut. 

Contoh Jenis Tanaman Aeroponik

Jenis tanaman yang umumnya ditanam secara sistem ini diantaranya adalah selada, kangkung, bayam, sawi, pakchoyy, mint, basil, tomat dan mentimun. Adapun jenis umbi-umbian yang bisa ditanam dengan sistem ini, yakni kentang, ubi, wortel dan lobak.

Baca Juga: Mengenal Aeroponik, Sistem Bercocok Tanam di Udara Tanpa Tanah
5 Alasan Mengapa Hidroponik Lebih Dipilih untuk Budi daya Sayuran

Jenis tanaman yang sering dibudidayakan umumnya berupa sayuran daun yang waktu panennya sekitar satu bulan setelah pindah tanam.

Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk membuat sistem jenis ini adalah Jaringan Irigasi Sprinkler, pompa air, nozzle Sprinkler, pipa Paralon atau PVC, pipa etilen, rockwool, styrofoam, larutan Nutrisi, bibit Tanaman.

Video Terkait