Modal Belajar di YouTube, Ini Cerita Inspiratif di Balik Kebun Hidroponik Maisa Petani

Valmaisa Jazila saat merawat tanaman di kebun hidroponik (Arif Ferdianto)

Editor: Dera - Selasa, 23 November 2021 | 22:00 WIB

Sariagri - Kebun Maisa Petani tercipta atas dedikasi sang ibunda, Irta C Tjokro terhadap anaknya yang berkebutuhan khusus Valmaisa Jazila. Kebun yang terletak di Jalan Benda, Ciganjur, Jakarta Selatan ini memiliki luasan 2.000 meter persegi dan didominasi dengan komoditas hortikultura.

“Adanya kebun maisa petani ini untuk membuat aktifitas anak saya yang berkebutuhan khusus, lalu saat itu di rumah kita belajar sama-sama sekitar tiga tahun lalu yaitu hidroponik,” ujar Irta C Tjokro saat ditemui Sariagri, Selasa (9/11/2021).

Irta menjelaskan bahwa dahulu dirinya tidak yakin dapat mengembangkan hidroponik di lahan miliknya karena sama sekali tak memiliki pengalaman di dunia pertanian. Berbekal media Youtube, dirinya pun menjajalnya sedikit demi sedikit yang di mulai dengan menanam kangkung dan bayam.

“Saya pelajarin lah dengerin dan saya fokus ke kangkung dan bayam sebelum hal yang lain, terus coba juga caisim,” jelasnya.

Irta yang juga merupakan ibunda musisi Sheryl Sheinafia ini mengungkapkan bahwa, berdirinya kebun hidroponik ini lantaran Maisa yang menyandang autisme harus mengonsumsi satu mangkuk besar sayuran setiap harinya.

“Karena dia harus diet tiap pagi dia diwajibkan makan satu mangkuk besar sayur pagi sore, jadi dia sudah terbiasa dari lima tahun sebelumnya bahwa setiap pagi dia makan sayur-sayuran dan kebetulan dia memang suka,” ungkapnya.

Atas dasar itu, lanjut Irta, akhirnya beragam sayuran pun di tanam di Kebun Maisa Petani di antaranya jagung merah, jagung pelangi, pare, oyong, romain, selada kriting, pagoda, pakcoy, kemangi, terong dan lain sebagainya. Menurutnya, semua tanaman tersebut ditanam secara berkala agar memberikan variasi.

“Jadi misalnya sekarang musim pakcoy sama pagoda besoknya kemangi sama lainnya, akhirnya yang tadinya 2-3 macam jadi lima macam. Lalu mulai coba yang di tanah karena alat hidroponik gak banyak juga, cobalah pakai polybag,” terangnya.

Irta yang berlatar belakang sebagai arsitek ini menyebutkan bahwa dirinya turut mengembangkan sistem akuaponik, dan membudidayakan beragam jenis ikan seperti nila, lele, gurame, dan patin. Dikatakannya, karena hasil pertaniannya yang cukup banyak akhirnya diapun berinisiatif untuk menjual sayuran organiknya.

Baca Juga: Modal Belajar di YouTube, Ini Cerita Inspiratif di Balik Kebun Hidroponik Maisa Petani
Kisah Sarjana Psikologi Alih Profesi: Saya Bangga Jadi Tukang Sayur

Lebih lanjut Irta menambahkan kondisi pandemi membuat kegiatan belajar mengajar Maisa di sekolahnya dirasa kurang efektif. Menurutnya, dengan adanya kebun tersebut Maisa jadi lebih aktif dan terus produktif.

“Nah setelah jualan mulai dari mulut ke mulut, temen-temen yang beli. Dengan adanya kegiatan ini saya benar-benar bersyukur karena Maisa punya kegiatan positif dan tetap produktif di kondisi pandemi saat ini,” tambahnya.

“Tempat ini memang satu-satunya pilihan saya untuk masa depannya Maisa,” tandasnya.

 

Video Terkait