Biasanya Dibuang, Kulit Manggis Diolah jadi Produk Herbal Lawan Diabetes

Guru Besar Fakultas Farmasi Unair, Sukardiman.(Sariagri/Arief L)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 24 November 2021 | 12:15 WIB

Sariagri.id - Kulit buah manggis yang biasanya hanya dibuang dan belum termanfaatkan untuk menjadi menjadi bernilai, ternyata mampu diolah menjadi produk herbal. Melalui serangkaian penelitian panjang, Guru Besar Fakultas Farmasi Unair, Sukardiman mengolah ekstrak kulit buah manggis ditambah daun kumis kucing menjadi produk herbal Diabetkol.

“Diabetkol merupakan kapsul herbal berbahan ekstrak kulit buah manggis dan daun kumis kucing yang memiliki kandungan mampu menormalkan gula darah, menurunkan kolesterol, hingga menurunkan hipertensi,“ ujar Sukardiman dalam rilis yang diterima Sariagri.id, Rabu (24/11/2021). 

Guru besar yang akrab dipanggil Prof Maman itu mengungkapkan, hasil penelitian telah diproduksi massal dan siap dipasarkan. Diabetkol, lanjut dia, telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Sebelumnya, produk herbal itu juga telah mengantongi izin produksi. 

“Alhamdulillah Diabetkol juga sudah bersertifikat halal, paten formulasi dan paten merek Alhamdulillah sudah diberikan juga,” jelas Direktur Pendidikan Unair itu. 

Produk Diabetkol akan segera diluncurkan di e-commerce oleh PT Darma Putra Airlangga. Sedangkan produksinya dilakukan CV Asimas Lawang.

Menurut Prof Maman, meski saat ini Diabetkol masih berstatus jamu, dalam waktu dekat pihaknya akan mendorongnya menjadi obat herbal terstandar, apalagi data-data praklinik sudah cukup lengkap. 

“Insya Allah juga akan segera kita launching ke depan dengan kerja sama bersama para klinisi untuk bisa diuji klinik. Kita akan melihat bagaimana respon masyarakat dan paling tidak aktivitas cara klinis ketika digunakan,” katanya. 

Baca Juga: Biasanya Dibuang, Kulit Manggis Diolah jadi Produk Herbal Lawan Diabetes
Masuk Musim Kemarau, Panen Stroberi dan Raspberry Cocok untuk Kesehatan

Dia berharap, hasil risetnya dapat memberikan kontribusi untuk menurunkan jumlah penderita diabetes di Indonesia. Hal ini mengingat prevalensi diabetes di Indonesia sangat tinggi yaitu peringkat keempat di dunia setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. 

“Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk masyarakat luas untuk kemaslahatan umat. Paling tidak, hasil riset bukan tidak berhenti menjadi produk; laporan; atau paten saja, tapi juga bisa di hilirisasi dengan mitra-mitra terbaik kita,” tandasnya.

Video terkait:

 

Video Terkait