Serat Bambu Berpotensi Ciptakan Pengembangan Manufaktur Hijau yang Ramah Lingkungan

Ilustrasi Bambu (Unsplash)

Editor: Dera - Senin, 20 Desember 2021 | 20:40 WIB

Sariagri - Banyak tumbuh di Indonesia, bambu adalah tanaman yang menyimpan segudang keistimewaan. Bambu dapat tumbuh sangat cepat dan memiliki kualitas regeneratif yang luar biasa. Ia juga efektif menyerap karbondioksida. Selain ringan, bambu kuat dan fleksibel.

Seperti diketahui, bahan serat sintetis klasik yang biasa digunakan dalam industri transportasi, konstruksi, dan atletik, bermasalah karena berbagai alasan. Bahan ini seperti poliester atau karbon berasal dari petrokimia yang tidak dapat diperbarui atau terurai secara hayati. Meski proses pembuatannya rumit, intensif energi dan mahal, faktanya mereka terus digunakan.

Berdasarkan persoalan di atas,  tim peneliti Universitas Maryland yang dipimpin oleh Liangbing Hu-Profesor Terhormat Herbert Rabin dan direktur Pusat Inovasi Material menciptakan pendekatan baru untuk produksi serat makro selulosa yang seluruhnya terbuat dari bambu.




Melansir Phys.org, serat makro selulosa "hijau" Ini dicapai melalui proses delignifikasi ringan dan pengeringan udara sederhana. Bahan yang dihasilkan secara signifikan lebih kuat daripada serat yang berasal dari kayu dengan kekuatan yang sebanding dengan serat sintetis dan lebih ramah lingkungan.

Karya itu diterbitkan di Nature Sustainability pada 16 Desember. Dijelaskan, serat makro bambu yang kaku tertanam di dalam matriks sel parenkim berongga yang saling menempel dalam lem polimer alami yang terbuat dari lignin kaku dan hemiselulosa amorf.

"Kami mampu mengekstraksi serat ringan dan berkinerja tinggi ini menggunakan asam peroksiformat sebagai agen delignifikasi," kata Hu.

"Pengikat lignin/hemiselulosa telah dipecah, memungkinkan serat makro selulosa yang hampir padat dipisahkan dan dikumpulkan dengan sedikit kerusakan mekanis," tambahnya.

Serat makro selulosa bambu ini menawarkan pengurangan substansial dalam emisi gas rumah kaca dibandingkan dengan serat kapas, sutra laba-laba, karbon, nilon, dan bahkan rayon. Selain itu, serat bambu relatif murah dan mudah diproduksi, menawarkan berbagai aplikasi struktural di berbagai industri otomotif, penerbangan, konstruksi dan tekstil. Baca Juga: Serat Bambu Berpotensi Ciptakan Pengembangan Manufaktur Hijau yang Ramah Lingkungan
Bantu Warga Kampung Hasilkan Cuan, Wanita Asal Cina Ini Berhasil Produksi Anggur Bambu



"Saya senang menjadi bagian dari penelitian ini mengingat potensinya yang besar untuk menggantikan banyak bahan padat karbon dengan bahan yang berlimpah dan berkelanjutan yang diarahkan untuk masa depan yang bertanggung jawab secara ekologis," kata Yuan Yao, asisten profesor ekologi industri dan sistem berkelanjutan di Yale.

Hal senada juga diungkapkan Sheldon Q. Shi, P.E., profesor di Society Wood Science and Technology (SWST): "Teknologi yang disajikan dalam penelitian ini memberikan pendekatan revolusioner untuk memaksimalkan pemanfaatan bambu alami," ujarnya.

 

Video Terkait