Penelitian Terbaru: Meski Sudah Dilarang, Ternyata Serangga Menyimpan Pestisida Lebih Banyak dan Lebih Lama

Populasi lebah madu terancam oleh penggunaan pestisida. (pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 4 Januari 2022 | 18:00 WIB

Sariagri - Meski sudah dilarang karena merusak lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan, penggunaan pestisida kimia untuk membasmi hama sampai saat ini masih banyak digunakan. Salah satu dampak buruk pada rusaknya ekosistem adalah berkurang populasi serangga.

Penelitian baru menemukan bahwa serangga ternyata menyimpan residu pestisida jauh lebih berat, dan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Ilmuwan Jerman menemukan rata-rata 16 jenis pestisida (campuran) per area pada serangga terbang dari 21 cagar alam yang diteliti.

Mereka menemukan campuran 27 racun pada serangga dari satu lokasi, demikian dikutip dari hortidaily.com. Temuan ini tampaknya menjelaskan alasan anjloknya populasi serangga dalam beberapa puluh tahun belakangan ini.

Sebagaimana diketahui, penggunaan satu jenis pestisida saja dapat mempengaruhi populasi serangga, apalagi jika menggunakan campuran beberapa jenis pestisida. Dalam artikel yang diterbitkan di Scientific Reports, para peneliti Jerman menunjukkan bahaya dari campuran beberapa pestisida yang disebut 'racun' dalam artikel tersebut.

Sampai saat ini, residu racun di bidang pertanian dan hortikultura terutama ditentukan berdasarkan sisa-sisa tanaman dan sampel tanah. Namun tim peneliti dari Universitas Koblenz-Landau tersebut menggunakan metode lain, yakni menangkap serangga terbang di 21 kawasan alam yang dilindungi yang disebut perangkap Malaise.

Serangga yang ditangkap kemudian diawetkan dalam etanol, setelah itu etanol diperiksa untuk mengetahui racun (campuran pestisida) yang ada. Secara total, para peneliti menemukan jejak 47 jenis pestisida yang berbeda.Baca Juga: Penelitian Terbaru: Meski Sudah Dilarang, Ternyata Serangga Menyimpan Pestisida Lebih Banyak dan Lebih Lama
Atasi Organisme Perusak Tanaman dengan Pengembangbiakan Serangga Predator



Yang mengejutkan, para peneliti menemukan zat thiacloprid di enam belas area. Zat yang disebut neonicotinoid itu sangat berbahaya sehingga Uni Eropa (UE) telah melarang penggunaannya sejak lama.

Metode penelitian ini sama dengan metode yang digunakan peneliti Jerman pada tahun 2017, dengan kesimpulan mengejutkan bahwa total biomassa serangga terbang di cagar alam Jerman telah menurun lebih dari 75 persen sejak 1989. Studi baru tampaknya menggarisbawahi alasan utama anjloknya populasi serangga tersebut.

Video Terkait