Harga Cabai Meroket di Pasaran, Ini Salah Satu Penyebabnya

Cabai rusak terserang ulat dan hama patek antraknosa. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 7 Januari 2022 | 14:50 WIB

Sariagri - Kerap diguyur hujan, tanaman cabai merah besar di Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur terancam gagal panen. Hal ini lantaran cabai merah besar, yang saat ini siap petik mengalami kerusakan seperti buahnya busuk dan banyak yang rontok.

Salah satunya, dialami Sukamto (52 tahun), yang menderita kerugian besar akibat lahan cabai merah besar miliknya hampir separuh lebih rusak. Ia mengatakan curah hujan tinggi dan disertai angin kencang yang terjadi belakangan ini, mengakibatkan tanaman cabai miliknya rusak.

Kondisi ini membuat dirinya rugi besar, sebab produksi cabai merosot drastis hingga mencapai lebih dari 50 persen.

”Intensitas curah hujan tinggi selama dua pekan terakhir membuat hasil panen menurun, bahkan sampai 50 persen. Ini dikarenakan buah cabai merah besar banyak yang busuk dan rontok ke tanah,” ungkap petani cabai merah besar, Sukamto kepada Sariagri, Jumat (7/1/22).

Selain itu, sebagian besar tanaman cabai miliknya juga rusak akibat diserang hama patek atau antraknosa.

“Cirinya diserang hama patek. Seperti ini buah cabai besar hijau juga mengalami pembusukan dan mengering, lalu banyak yang rontok ke tanah. Terus daunnya juga jadi keriting,” bebernya seraya menunjukan tanaman cabai yang dimaksudkan itu.

Dirinya menyebutkan, sekali petik dari sepetak lahan berukuran 100 meter persegi awalnya mampu menghasilkan rata-rata empat karung cabai. Namun, kini hanya mampu menghasilkan tak lebih dari dua karung saja dan itupun dengan kualitas rendah.

”Akibat kondisi ini harga cabai di tingkat petani anjlok. Saat cuaca normal harga cabai merah besar berada dikisaran Rp30.000 per kilogram, tetapi saat ini harganya hanya laku dibeli Rp19.000 perkilo saja,”imbuhnya.

Merosotnya hasil panen ini, membuat petani rugi jutaan rupiah. Setiap petak lahan berukuran seratus meter persegi yang ia miliki, kerugian yang harus ditanggung berkisar antara Rp2 juta sampai Rp3 juta.

“Jelas rugi banyak. Karena tidak sebanding dengan tingginya biaya cocok tanam, pemupukan dan perawatan selama proses masa tanam,” kata dia.

Ia mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi yang dialaminya. Guna mengurangi resiko kerugian yang lebih besar, ia tetap berupaya memanen cabai yang rusak untuk dikeringkan, meski dengan hasil seadanya.

” Untuk cabai yang masih agak bagus dikeringkan. Sedangkan yang membusuk dan diserang Patek saya ambil dan buang, agar tidak merambat ke buah cabai lainya,” jelasnya. 

Sukamto menerangkan kerusakan tanaman cabai merah besar tidak hanya dialami pada lahan miliknya, namun juga diderita oleh puluhan petani yang sama di desanya.

“kalau ditotal ya ada puluhan hektar tanaman cabai di desa ini yang mengalami kondisi serupa. Semuanya terancam gagal panen. Tanaman cabai rusak diserang hama patek antraknosa dan hujan,” ucapnya.

Baca Juga: Harga Cabai Meroket di Pasaran, Ini Salah Satu Penyebabnya
Niat Untung Malah Buntung, Begini Kisah Petani di Lombok Tanggapi Mahalnya Harga Cabai

Meski harga jualnya relatif murah, petani terpaksa melakukan petik sebagian agar tetap bisa mendapatkan penghasilan.  

“Walau harganya jatuh, tetap dipetik. Kalau tidak petani tidak bisa makan. Padahal mestinya petani untung, karena harga cabai merah besar dipasaran saat ini naik dari sebelumnya Rp30.000 menjadi Rp45.000. tapi kenapa pasokan sedikit, petani justru harus menanggung rugi,” tandasnya dengan raut wajah muram.  

Video Terkait