Bantu Model Penjualan, Mantan Relawan PMI Ini Dirikan Komunitas Petani Mangga di Indramayu

Suta mendirikan bernama Mangga Sinawang di Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. (Foto Istimewa)

Editor: M Kautsar - Minggu, 9 Januari 2022 | 17:00 WIB

Sariagri - Individualisme, sebuah kata yang menggambarkan kondisi kebanyakan petani Indonesia saat ini yang cenderung bekerja secara sendiri-sendiri. Kelompok dan korporatisasi petani masih minim dibentuk di berbagai daerah. Padahal komunitas petani bisa jadi kunci untuk meningkatkan nilai dan kapasitas petani.

Menyadari akan realita itu, Suta (30 tahun) berinisiatif membentuk dan mendaftarkan kelompok tani mangga di tempat asalnya.

Sebelumnya, sejak 2012, Suta merupakan seorang tenaga relawan di Palang Merah Indonesia (PMI). Namun, sudah setahun belakangan ini Suta mulai aktif menggerakkan kelompok tani bentukannya bernama Mangga Sinawang di Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

"Saya baru terjun ke pertanian mangga sejak setahun belakangan ini karena melihat banyak petani mangga di desa sini yang bergerak sendiri-sendiri, tidak berkelompok. Akhirnya saya membuat dan mendaftarkan kelompok tani ini," ujar Suta kepada Sariagri, Minggu (9/1).

Suta bercerita, awal mula tergerak membangun kelompok tani mangga karena banyak petani di tempatnya yang bermasalah dengan sistem pembayaran tengkulak. "Banyak petani mangga di sini yang terlibat masalah dengan tengkulak, mereka tidak mendapat uang pembayaran dari mangga yang diambil tengkulak dengan alasan busuk atau lainnya. Bahkan hal itu juga menimpa kakak saya yang sampai saat ini pun belum terima pembayaran mangga dari tengkulak," ungkap Suta.

Adanya kelompok tani membuat Suta optimistis bahwa petani mangga di sana bisa menemukan pasar yang lebih baik dan menjanjikan.

Saat ini ada sekitar 15 petani mangga yang tergabung dalam Kelompok Tani Mangga Sinawang itu. Mangga gedong gincu jadi prioritas yang dibudidayakan petani di sana dan sebagian kecil lainnya merupakan mangga harum manis dan mangga cengkir.

Kini, setelah berkelompok, kata Suta para petani bisa merasa lebih aman saat menjual produknya. Kelompok tani akan memasarkan mangga mereka ke beberapa perusahaan, dan industri jus buah. Selain itu, mangga hasil kelompok tani juga sebagian dipasarkan ke tempat penjualan oleh-oleh di Indramayu hingga dinikmati oleh wisatawan mancanegara.

"Kami pasarkan juga ke tempat oleh-oleh khas Indramayu, mereka sistem pembayaran tunai jadi petani merasa terlindungi. Selain itu, kami juga tengah membangun kontrak dengan perusahaan jus, mereka butuh mangga cengkir dan harum manis 33 ton per kilo, tapi kami baru mampu menyuplai secara parsial yaitu 2 ton per hari kebutuhan mereka," jelas Suta.

Menurut Suta, tantangan terbesar petani mangga yaitu ketika menghadapi masa puncak panen di sekitar bulan Oktober - November. Saat itu, lanjut Suta, sering terjadi suplai mangga jauh lebih banyak dari permintaan.

"Kalau panen raya, suplai mangga terlalu banyak dari pada permintaan. Jadi banyak mangga petani tidak terjual dengan baik," kata Suta.Baca Juga: Bantu Model Penjualan, Mantan Relawan PMI Ini Dirikan Komunitas Petani Mangga di Indramayu
Unik, Wanita Asal Sukabumi Ini Pamerkan Mangga Langka di Pasar Tani Goes to Mall



Karena itu, Suta berharap agar industri pengolahan mangga di dalam negeri bisa terus tumbuh pesat sehingga harga dan permintaan mangga di petani bisa stabil. Selain itu, peran pemerintah dalam meningkatkan kapasitas petani mangga, menurut Suta juga sangat diperlukan untuk mendukung kemajuan pertanian mangga di Indramayu.

"Kami berharap bimbing dan pelatihan dari pemerintah semakin banyak dan bisa diterima petani dengan baik sehingga dapat meningkatkan kapasitas petani mangga di sini agar lebih maju," pungkas Suta.

Video Terkait