Peneliti UGM Sukses Kembangkan Ratunya Hijauan di Iklim Tropis

Bambang Suwignyo, peneliti dari Fakultas Peternakan UGM. (Foto Istimewa)

Editor: M Kautsar - Senin, 10 Januari 2022 | 17:45 WIB

Sariagri - Bambang Suwignyo, peneliti dari Fakultas Peternakan UGM kini boleh berbangga hati karena namanya akan abadi sebagai nama dari varietas tanaman yang digandrungi di seluruh dunia, Alfalfa atau queen of forage yakni ratunya hijauan pakan. Di Indonesia tanaman ini popular dengan nama kacang ratu.

Ya, kacang ratu adalah hijauan pertama yang dibudidayakan manusia. Kegunaan utama kacang ratu, khusus daun dan tangkainya, sejak dahulu ialah sebagai pakan ternak, khususnya kuda. Belakangan ini sudah digunakan sebagai pakan sapi perahan dan unggas.

Di Amerika Serikat, kacang ratu menjadi tanaman utama nomor tiga paling banyak dibudidayakan setelah jagung dan kedelai. Malahan, pada saat ini kacang ratu telah menjadi pakan hijauan yang paling besar produksi globalnya di banding pakan hijauan lainnya.

Bambang mengatakan bahwa kacang ratu berasal dari daerah mediterania dan menyebar ke seluruh dunia bersama ekspansi dunia islam untuk pakan kuda pasukan perang. Beberapa saat terakhir kacang ratu juga sudah banyak dikembangkan di Indonesia tapi masih memakai bibit dari kacang ratu sub tropis, sehingga panennya tidak optimal.

“Hal inilah yang kemudian membuat saya meneliti kacang ratu yang cocok untuk iklim tropis di Indonesia,” kata Bambang kepada Sariagri, pekan lalu.

Bambang mulai mengembangkan kacang ratu di kebun Fakultas Peternakan UGM sejak tahun 2010 dan dengan telaten mencoba mengembangkannya sebagai varietas yang cocok untuk lahan pertanian Indonesia.

Lalu lahirlah sebuah varietas baru yang berbeda dengan tanaman induknya yang kemudian Bambang mendaftarkan tanaman yang dia kembangkan tersbeut ke Kementerian Pertanian.

Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) saya ajukan pada 2019, dan September 2021 lalu tanaman alfalfa atau kacang ratu tropis pertama di Indonesia dan resmi menyandang nama Kacang Ratu BW,” terang Bambang.

BW adalah inisial dari nama lengkap Bambang, yakni Bambang Wignyo.

Kacang ratu BW, menurut Bambang, sudah sangat berbeda dengan tanaman induknya di iklim sub tropis. Salah satunya, karena sudah cocok dengan iklim tropis, kacang ratu BW memiliki pertumbuhan yang sangat cepat. Ya, kacang ratu BW rerata tumbuh mencapai 5cm per hari dalam dua pekan pertamanya. Lalu di pekan ketiga akan mulai berbunga dan menghasilkan biji.

Baca Juga: Peneliti UGM Sukses Kembangkan Ratunya Hijauan di Iklim Tropis
Tanaman Pecut Kuda, Tumbuhan Liar yang Memiliki Segudang Manfaat untuk Kesehatan

“Produktivitasnya pun melonjak tinggi, sampai 20 ton per hektar. Jadi ke depan saya harap bisa jadi pilihan komoditas untuk petani. Padi kan hanya 5-6 ton per hektare, harga per kilonya pun kalah jauh baik kondisi basah maupun kering,” jelasnya.  

Kacang ratu BW juga memiliki masa panen yang sangat cepat yakni tiap 30 hari sekali.

“Per kilo kering Rp60 ribu bandingkan dengan beras ataupun kacang-kacangan yang lain yang berkisar Rp 10 ribu saja,” kata Bambang.

Video Terkait