Menengok Pusat Pembibitan Bonsai di Bantul, Hapus Stigma Perusak Hutan di Bisnis Miliaran

Gunardi menunjukkan cara grounding bonsai.(Sariagri/Eko Putro)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Reza P - Selasa, 11 Januari 2022 | 18:40 WIB

Sariagri - Sudah menjadi rahasia umum kalau harga bonsai itu mahal. Selain itu ada stigma buruk yang disematkan kepada para penggemar atau pecinta bonsai yaitu perusak hutan karena selama ini memang banyak dari meraka yang mengambil bibit pohon dari hutan.

Pecinta bonsai yang tergabung dalam Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Bantul, punya cara untuk menghapus stigma itu sekaligus semakin sukses dalam budidaya bonsai.

Koordinator Wilayah Piyungan PPBI Cabang Bantul, Gunardi, mengatakan nilai bonsai yang mahal mendorong sejumlah pecinta bonsai mengambil bibit terbaik dari hutan.  

“Tapi ini selain merugikan hutan yang pada gilirannya alam rusak dan kita semua menanggung akibatnya, secara bisnis pun sebenarnya tidak berkelanjutan,” ujar Gunardi di Yogyakarta, Selasa (11/1/2021).

Dalam beberapa tahun terakhir, para penggemar bonsai di Bantul sudah mulai membudidayakan bibit sendiri. Dua tahun silam, Korwil Piyungan bahkan telah membuka kebun pembibitan bonsai bersama.

Ground Bonkopi (Bonsai Korwil Piyungan) I di Dusun Nyamplung, Desa Srimulyo dengan luas sekitar 0,5 hektare. Selain itu, di Piyungan kini juga memiliki enam kebun pembibitan dan pembesaran yang dimiliki perorangan.

Ada ratusan pohon yang dibudidayakan di pusat pembibitan Piyungan, Bantul.

“Ini upaya kita, supaya para pecinta bonsai itu tidak lagi ndangkel (mengambil) pohon dari hutan,” kata Gunardi.

Bibit bonsai yang mereka tanam mulai dari asem Jawa, waru, lohansung, cemara, jenis ficus seperti beringin, preh hingga kimeng dan masih banyak jenis tanaman lainnya. Untuk asem Jawa dan lohansung, mereka menyemai langsung dari bijinya. Sedangkan untuk jenis ficus biasanya perbanyakan dilakukan dengan cara cangkok agar tumbuh lebih cepat.

“Kita pengin bilang kalau orang bonsai itu enggak sekadar ndangkel di hutan, merusak alam, image itu harus kita hilangkan. Dengan cara apa? Budidaya,” lanjutnya.

Melalui budidaya, mereka bukan hanya bisa mengurangi pengambilan tanaman dari dalam hutan tetapi ikut berkontribusi dalam upaya penanaman hutan kembali menggunakan bibit yang dihasilkan.

“Misalnya ketika Merapi erupsi, PPBI mengadakan penanaman 1.000 pohon di lereng Merapi,” katanya.

Panen dua kali lebih cepat

Cara budidaya yang dilakukan pebonsai di Bantul berbeda dengan cara konvensional. Mereka menamai cara budidayanya dengan istilah ‘grounding’. Mereka sudah mengembangkannya sejak 2013. Metode itu bisa disebut sebagai gabungan dari penanaman di dalam pot dan di tanah langsung.

Bedanya, media yang digunakan dalam metode grounding berupa karpet dari talang atau planter ground yang dibentuk melingkar menyerupai pot. Karpet ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian bawah dengan ketinggian 35 cm dan bagian atas dengan ketinggian 25 cm. Di dalam karpet ini bahan atau bibit bonsai akan ditanam.

Karpet pertama, diisi media tanam berupa tanah dan pupuk dengan ketinggian beberapa cm di bawah puncak karpet. Di atas karpet, media pada karpet pertama ditutup karpet lagi namun tidak sampai menutup seluruh permukaan media. Disisakan celah di sekitar lingkaran dengan ukuran beberapa cm yang memberikan keleluasaan pada akar untuk bergerak ke bawah.

“Di atas lapisan karpet itulah nantinya pohon ditanam, lalu ditutup lagi pakai media tanam,” kata Gunardi.

Dengan metode penanaman seperti itu, akar tanaman akan lebih leluasa mencari makanan dibandingkan menggunakan pot pada umumnya. Karena itu, nutrisi yang bisa diserap akar juga bisa lebih banyak. Apalagi mereka menanam bibit itu langsung di kebun yang langsung mendapatkan angin, udara, air hingga sinar matahari langsung. Karena itu, metode ini bisa mempercepat pertumbuhan tanaman, bahkan sampai dua kali lipat.

“Yang awalnya kalau pakai pot kita harus nunggu 12 tahun untuk panen, pakai metode ini 6 sampai 7 tahun saja sudah bisa panen, jadi hemat waktu sampai setengahnya,” lanjutnya.

Mengapa tidak menanam langsung di tanah? Ini terkait dengan fungsinya karpet kedua yang di atas. Ketika akar tanaman akan diatur atau diprogram, karpet kedua yang diatas tinggal dilepas sehingga memudahkan proses pengaturan akar dan pemindahan ke dalam pot. Sedangkan jika tanaman langsung ditanam di tanah, proses pengaturan akar akan sangat sulit karena tidak terkendali dan harus menggali cukup dalam.

Baca Juga: Menengok Pusat Pembibitan Bonsai di Bantul, Hapus Stigma Perusak Hutan di Bisnis Miliaran
Festival Bonsai Nasional Upaya Desa Giriawas Garut Bangkitkan Ekonomi Petani

“Jadi selain untuk menghemat waktu, juga untuk memudahkan proses pemrograman akar dan pengepotan,” kata Gunardi.

Dengan kecepatan budidaya ini bisa dibayangkan berapa putaran uang yang akan dinikmati pembibit bonsai?

“Kalau konsisten dalam 6-7 tahun kita bisa putar bibit ini miliaran, kalikan saja per pohon Rp40 jutaan saja,” jelas Gunardi.

Video:

Video Terkait