Yogya Targetkan Ekspor Tanaman Hias Rp3 Miliar di 2022, Kuping Gajah Laku 30 Dolar AS!

Ilustrasi tanaman monstera atau janda bolong. (Unsplash)

Editor: Dera - Selasa, 18 Januari 2022 | 17:20 WIB

Sariagri - Pontensi ekspor holtikultura dari Yogyakarta terbukti sangat tinggi. Hanya dalam waktu 7 bulan awal bekerja, Perhimpunan Horti Ekspor Milenial Indonesia (Perhemi) Yogyakarta sukses mengekspor tanaman hias sebesar Rp580 juta. Perhimpunan yang kemudian diresmikan pada akhir tahun lalu ini menargetkan ekspor naik menjadi Rp3 miliar pada tahun ini.

“Jadi kita kerja 7 bulan awal itu officialy Perhemi belum berdiri. Kita tunjukkan dulu kepada petani tanaman hias bahwa kita serius ingin kolaborasi. Setelah petani merasakan dampaknya baru Desember lalu resmi berdiri dengan 25 petani tanaman hias besar di Jogja bergabung dan 13 sudah sukses kita bantu ekspor,” demikian terang Ketua Umum Perhemi, Triadi Nugroho, saat dihubungi Sariagri.id, Selasa (18/1).

Kuping gajah, buah tin, monstera, hoya, batang bibit kangkung dan bayam, jadi komoditas dengan value terbesar dari ekspor selama tujuh bulan di 2021 kemarin. Harga jual ekspor cukup tinggi yang dicontohkan Triadi untuk harga kuping gajah di Indonesia hanya Rp30 ribu laku dijual 30 dolar AS untuk pasar ekspor.

“Makanya kita targetkan Rp3 miliar bisa ekspor dan keuntungan langsung ke petani. Perhemi hanya jasa administrasi saja, memudahkan mereka bisa menjual ke end user langsung. Tapi kita yakin bisa jual di atas Rp3 miliar, karena makin banyak petani yang bergabung, ada 200-an petani tanaman hias di Yogya, bahkan lebih,” papar Triadi.

Triadi sendiri adalah warga Sleman yang mengawali kiprah ekspor hortikultura di awal pandemi lalu. Selama setahun sudah mengirimkan tanaman hortikultura ke 14 negara. Mulai dari pasar Amerika Serikat, Eropa hingga Timur Tengah.

Kini dia berkeinginan membantu penggiat hortikultura untuk melakukan ekspor melalui platform digital e-commerce dan marketplace. Menurut dia, untuk ekspor produk holtikultura tidak sama dengan ekspor komoditi lainnya.

“Bayanganya mungkin harus berapa kontainer, harus kontinu, padahal bisa hanya boks kecil,” ungkapnya.

Karena itu, lanjut dia, Perhemi hadir untuk menjadi fasilitator. Menjadi pendamping teknis dan non teknis bagi seluruh penggiat hortikultura dalam rangka menyiapkan dan memantaskan diri menuju ekspor produk hortikultura.

Menurut dia, untuk tanaman hias, pesaing utama berasal dari Thailand. Tapi saat ini tanaman dari Thailand sedang ditolak. “Tak banyak syarat untuk ekspor, yang paling penting tanaman bebas nematoda,” jelasnya.

Baca Juga: Yogya Targetkan Ekspor Tanaman Hias Rp3 Miliar di 2022, Kuping Gajah Laku 30 Dolar AS!
Rangkul Milenial, Pemkab Kediri Fasilitasi Ekspor Tanaman Hias

Wakil Ketua Perhemi Liling Watiyasita menambahkan, di luar negeri tanaman hias sudah menjadi gaya hidup. Mulai untuk mempercantik ruangan hingga mengurangi polutan. Untuk pengiriman pun bisa dalam jumlah kecil. Karena itu dia mendorong para pegiat tanaman hias di DIY untuk mencoba mencari pasar ekspor. “Biasanya petani itu gagap aturan ekspor, adanya Perhemi ini bisa jadi jembatan,” katanya.

Dewan Penasehat Perhemi Roby Kusumaharta pun mendorong pelaku holtikultura di DIY untuk mencari pasar luar negeri. Dia menyebut keberadaan Yogyakarta International Airport harus bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk mengirimkan produknya ke luar negeri. “Pemprov DIY juga sudah minta untuk mencari produk baru yang laku dijual ke luar negeri,” tuturnya. 

Video Terkait