Fakta Kratom, Tanaman Herbal yang Termasuk dalam Golongan Narkotika

Ilustrasi daun kratom (Foter)

Editor: Tanti Malasari - Jumat, 21 Januari 2022 | 13:50 WIB

Sariagri - Kratom adalah tanaman tropis yang banyak tumbuh di wilayah Asia Tenggara, seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Di Indonesia, tanaman perdu ini banyak tumbuh di Pulau Kalimantan. Saking melimpahnya, mereka sudah menjadi komoditas unggulan ekspor dari Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Pada September 2021 lalu, tanaman yang mempunyai nama latin Mitragyna speciosa ini, berhasil menembus pasar ekspor dari Indonesia ke Belanda secara perdana melalui Bandara Supadio Pontianak. Namun hal itu ternyata menuai banyak polemik. Mengingat tanaman ini sebenarnya dikategorikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), sebagai salah satu jenis narkotika golongan I.

Spesifikasi kratom

Pada dasarnya tanaman ini merupakan keluarga dengan kopi atau Rubiaceae. Mereka memiliki daun lebar yang ukurannya mencapai telapak tangan orang dewasa, bahkan bisa lebih. Ia dapat tumbuh mencapai 16 meter, sehingga kerap digunakan untuk menjaga lahan dan menahan tanah longsor pada aliran sungai.

Manfaat kratom

Selain sebagai tanaman perdu, ada manfaat lain yang terdapat pada daun ini, yaitu digunakan untuk bahan pengobatan herbal. Hal ini tidak lepas dari kandungan yang ada di dalamnya. Daun ini mengandung setidaknya 40 jenis senyawa alkaloid, diantaranya adalah mitragynine, 7-
hydroxymitragynine, speciociliatine, corynantheidine, speciogynine, paynantheine dan mitraphylline.

Tak hanya itu saja, daun tanaman ini juga mengandung antioksidan flavonoid, terpenoid, saponins, polifenol, dan glikosida. Senyawa tersebut diyakini bisa mengobati berbagai macam keluhan dalam tubuh, seperti rasa nyeri, ganguan kecemasan, dan gangguan tidur.

Cara menggunakan

Di Thailand bagian selatan dan Malaysia bagian utara, tanaman ini telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat lokal. Pada dasarnya untuk mengonsumsi tanaman ini bisa dilakukan dengan beberapa cara. Mulai dari merebus daun kering untuk dijadikan sebagai minuman teh, atau bisa juga diubah menjadi pil, kapsul, tablet, dan bubuk.

Efek samping

Seperti yang telah disampaikan oleh BNN sebelumnya, tanaman ini termasuk jenis narkotika golongan I. Oleh karena itu, jika dikonsumsi secara berlebihan maka tanaman ini berpotensi membahayakan kesehatan serta mengakibatkan ketergantungan.

Selain itu, seseorang yang menggunakan tanaman ini dalam dosis tinggi, juga bisa memberi efek samping lain seperti halusinasi, khayalan, kebingungan, sakau, disertai dengan rasa mual, gatal, berkeringat, mulut kering, sembelit, peningkatan buang air kecil, sampai kehilangan nafsu makan.

Penggunaan yang digunakan dalam jangka panjang, juga sangat berbahaya sebab dapat menyebabkan anoreksia, penurunan berat
badan, insomnia dan bahkan kematian.

Legalitas kratom

Status tanaman ini sebagai barang legal masih menjadi pro dan kontra. Hal ini dikarenakan beberapa negara di dunia menerapkan kebijakan yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, tanaman ini masuk termasuk barang terlarang dan tidak diperbolehkan penggunaannya. Begitu pula
dengan Denmark, Finlandia, Irlandia, Latvia, Lithunia, Polandia, Rumania, dan Swedia.

Delapan negara tersebut menyatakan bahwa kratom masuk zat atau obat terlarang. Begitu pula untuk negara Swiss, mereka tidak memperbolehkan barang ini untuk dikonsumsi atau digunakan sebagai produk pewarna atau dupa. Namun di Thailand, tanaman ini menjadi barang legal, asalkan hanya digunakan dalam dunia medis dan pengobatan herbal.

Baca Juga: Fakta Kratom, Tanaman Herbal yang Termasuk dalam Golongan Narkotika
Daun Kelor, Superfood yang Baik untuk Kesehatan Tubuh

Sementara di Amerika Serikat, mereka menyerahkan keputusan kelegalan barang ini ke setiap pemerintah federal, namun Food and Drug Administration (FDA) memberlakukan pengiriman ke negaranya dapat disita. FDA mengimbau agar tidak mengonsumsi kratom, dikarenakan kekhawatiran disalahgunakan dan memberi dampak candu.

Namun di negara Jerman, barang tersebut tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi, tetapi masih diijinkan asalkan hanya digunakan sebagai produk pewarna. Dari data yang tercatat, hanya negara Austria saja, yang saat ini masih memperbolehkan dan melegalkan konsumsi kratom.

Video Terkait