Jadi Petani Hidroponik, Milenial Ini Raup Cuan Ratusan Juta

Ilustrasi hidroponik (pexels)

Editor: Dera - Jumat, 21 Januari 2022 | 18:45 WIB

Sariagri - Ashanu Gony, milenial asal asal Depok, Jawa Barat memutuskan untuk menjadi petani hidroponik. Pria berusia 26 tahun itu mengatakan bahwa prospek budidaya tanaman hidroponik cukup menjanjikan. Apalagi, lanjut dia, di tengah masa pandemi penjualan sayuran hidroponik menjadi incaran masyarakat karena kandungan nutrisinya yang tinggi.

“Sejak masa pandemi, makanan sehat sangat dibutuhkan, sayur hidroponik yang kandungan nutrisinya dapat dikontrol lebih tinggi dibandingkan sayur konvensional menjadi daya tarik bagi konsumsi pangan rumah tangga,” ujarnya melalui keterangan tertulis kepada Sariagri.id, Jumat (21/1/2022).

Gony mengungkapkan hasil budidaya hidroponiknya dipasarkan mulai dari kerabat terdekat, hingga komunitas penggiat hidroponik yang membeli berbagai jenis benih sayuran yang dikembangkannya.

“Penjualannya dilakukan dari teman ke teman, hingga komunitas yang membeli benihnya, kurang lebih usia sayur 10 hari untuk ditanam kembali,” ungkapnya.

Ashanu Gony (26) milenial asal Depok membangun pertanian hidroponik.(Dok. Pribadi)
Ashanu Gony (26) milenial asal Depok membangun pertanian hidroponik.(Dok. Pribadi)

Dia menyebutkan berbagai jenis komoditas hortikultura yang dibudidayakan di dalam greenhouse miliknya, di antaranya yaitu kangkung, bayam hijau, bayam merah, pakcoy dan selada. Menurutnya, tanaman tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga membutuhkan penanganan yang baik.

“Di sini ada sayur kangkung, bayam hijau, bayam merah, pakcoy dan selada. Masing-masing sayur punya karakternya sendiri, ada yang tidak tahan panas, tidak tahan jika cuaca sedang mendung atau tidak kena asupan matahari dan lainnya. Namun secara umum yang harus diperhatikan yaitu, oksigen, kelembaban udara, ph air, kadar kandungan nutrisi, kebersihan instalasi, gelombang matahari,” imbuhnya.

Pemilik gandaria hidroponik (greenhouse) ini menjelaskan bahwa sayuran yang dibudidayakannya tersebut membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk siap panen. Namun, kata dia, waktu pemanenan tergantung dari setiap jenis tanaman itu sendiri.

“Dari proses semai hingga panen biasanya 25-30 hari, tergantung jenis sayur, paling cepat masa panen untuk sayur kangkung, paling lama untuk selada. Yang paling dicari (konsumen) kangkung dan bayam, kemudian baru pakcoy dan selada,” ungkap petani hidroponik tersebut.

Gony menambahkan bahwa hasil pertanian hidroponik yang dikembangkan dalam greenhouse berukuran 10x10 meter itu, mampu menghasilkan sayuran sebanyak 100 kilogram dalam satu bulan.

“(Panen) kira-kira 100 kilogram dalam sebulan. Harga jual per kilonya, kangkung dan bayam Rp25 ribu, pakcoy, bayam merah dan selada hijau Rp30 ribu,” katanya.

Baca Juga: Jadi Petani Hidroponik, Milenial Ini Raup Cuan Ratusan Juta
Kisah Ashanu Gony, Petani Milenial Depok yang Geluti Pertanian Hidroponik

Lebih lanjut dia menyatakan bahwa pendapatannya menjadi seorang petani hidroponik bisa mencapai angka ratusan juta rupiah. Hal itu, kata dia, tergantung dari banyaknya sayuran yang ditanam sehingga hasilnya bisa menembus angka tersebut.

“Omzetnya bisa sampai puluhan juta bahkan ratusan juta, itu pun tergantung quantity yang diproduksi, semakin banyak quantitynya semakin banyak pula hasil yang didapat,” pungkasnya.

Video Terkait