Lewat Kentang, Petani Negara Ini Incar Teknologi China

Ilustrasi kentang (Pexels)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 28 Januari 2022 | 14:50 WIB

Sariagri - Daerah Nyandrua di Kenya selama beberapa dekade telah terkenal dengan produksi kentang kelas atas dan berbagai macam produk segar, termasuk sayur kale dan tomat. Salah seorang petani di Nyandrua, Eddie Kamau, memiliki keterikatan emosional dengan umbi yang selalu tumbuh subur di halaman belakang rumahnya.

Terlepas dari serangkaian kemunduran yang melanda pertanian kentang di wilayah Kamau, terutama akibat serangan serangga dan penyakit tanaman, ia belum menyerah pada sapi perah yang dulu berharga untuk keluarganya.

“Metode tradisional menanam kentang telah terbukti menantang dan itulah sebabnya kami tertarik untuk meminjam praktik pertanian modern dari China yang menjanjikan peningkatan hasil,” kata Kamau kepada Xinhua dalam sebuah wawancara.

Dia percaya bahwa sinergi dengan China akan mengubah pertanian kentang di dataran hijau subur yang tersebar di County Nyandarua. Menurutnya, hal itu menjadi mendesak di tengah penurunan produktivitas karena praktik pengelolaan pertanian yang buruk, keasaman tanah, dan serangan hama.

Kamau mengatakan seiring berkembangnya kerja sama bilateral China-Kenya di bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur, para petani kentang yakin akan beberapa manfaat yang mengalir ke arah mereka.

Dia melihat China merupakan kekuatan ekonomi dan teknologi yang kemitraannya dengan pemerintah Kenya dapat membantu mengubah pertanian kentang melalui adopsi teknologi dan peningkatan hubungan pasar.

Melalui penerapan teknologi dari China untuk pertanian kentang lokal, kami berharap hasil panen akan meningkat dan memperluas aliran pendapatan bagi para petani, ujar Kamau.

Melalui kemitraan dengan China, Kenya juga dapat menjadi tempat yang lebih baik untuk mengembangkan varietas kentang rekayasa genetika yang tahan penyakit, hama, dan kekeringan. Petani kentang kecil Kenya juga tertarik untuk mengadopsi praktik pertanian terbaik dalam upaya meningkatkan ekspor ke luar negeri dan meraih pasar yang lebih menguntungkan.

Setelah kami mengolah kentang menjadi keripik, kami dijamin pasar yang stabil di luar negeri. Kami berharap dapat bermitra dengan gerai ritel China untuk memasarkan produk kami, kata Kamau.

Petani di Nyandarua, yang memproduksi 32 persen kentang yang dikonsumsi di Kenya, telah mendapat manfaat dari proyek infrastruktur yang dibangun China.

Dengan kereta api dan jalan raya modern hasil kemitraan kami dengan China, saya dapat mengangkut kentang saya ke pasar dengan cepat dan dengan kenyamanan saya sendiri. Ini merupakan tonggak sejarah bagi negara ini,” kata Kamau.

Sementara itu menurut Jesse Kamutu, petani kentang di Nyandarua siap mengubah arah karena metode bercocok tanam tradisional menjadi semakin tidak berkelanjutan. Menurutnya, petani kentang Kenya telah kalah di pasar luar negeri karena ketidakmampuan menanam varietas kentang berkualitas tinggi.

Saya pikir, merupakan ide yang baik bagi kami untuk bekerja sama dengan China di bidang pertanian kentang karena negara tersebut memiliki teknologi yang dapat membantu kami mengatasi tantangan produktivitas, terang Kamutu.

Baca Juga: Lewat Kentang, Petani Negara Ini Incar Teknologi China
Cerita Sukses Agus Wibowo, Petani Milenial yang Berhasil Produksi Kentang Secara Mandiri

Berdasarkan data statistik dari Kementerian Pertanian Kenya, kentang merupakan tanaman pokok terpenting kedua di negara itu setelah jagung. Komoditas itu  ditanam di lahan seluas 128.000 hektar dengan hasil rata-rata delapan ton per hektar per tahun.

CEO Dewan Kentang Nasional Kenya, Wachira Kangogo, menyebut pemanfaatan teknologi China akan menjadi kunci untuk mengubah mata pencaharian sekitar 500.000 petani kentang di negaranya.

Video terkait:

Video Terkait