Berkembang Pesat, Budidaya Anggur di Yogyakarta Panen 3 Kali Dalam Setahun

Ilustrasi buah anggur hijau (Foto:Pixabay)

Editor: Dera - Jumat, 28 Januari 2022 | 16:10 WIB

Sariagri - Buah anggur dikenal sebagai salah satu jenis buah dengan harga mahal dan rasa yang khas. Di Indonesia, pengembangan buah ini sangat strategis, sumber bibitnya dan agroklimatnya sangat mendukung.

Dibandingkan dengan kawasan sub tropis, Indonesia sebagai negara tropis mempunyai beberapa keunggulan. Produktivitas anggur di kawasan tropis lebih rendah dibanding dengan kawasan sub tropis, namun panen anggur di kawasan tropis bisa sampai tiga kali dan saat panennya bisa di atur sepanjang tahun.  

Rilis Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baru-baru ini menjelaskan bahwa di Yogyakarta pun budidaya anggur cukup berkembang. Untuk jenis varietas anggur yang banyak ditanam di Yogyakarta, di antaranya adalah Red Globe, Jupiter, Black Panther, Ninel, Red Plain, dan lain sebagainya.

“Dari berbagai varietas anggur tersebut, rupanya varietas Ninel menjadi jenis yang paling banyak dicari oleh masyarakat di Yogyakarta dan varietas ini yang paling banyak ditanam oleh petani anggur di Kecamatan Jetis dan Kecamatan Bambanglipuro Bantul Yogyakarta,” kata rilis tersebut seperti dikutip Sariagri.id

Tak sekadar manis, anggur jenis Ninel ini juga memiliki rasa sedikit asam yang membuatnya segar. Anggur Ninel menjadi salah satu jenis anggur yang dibudidayakan oleh masyarakat Yogya pada pertama kali, walaupun dari tingkat kemanisan sendiri, anggur Ninel masih kalah dengan anggur jenis Dixon dan Count of Mountain Cristo.

Meskipun bukan dari Indonesia, anggur varietas Ninel ternyata mudah dikembangkan dan tak mengenal musim untuk berbuah. Bahkan, tanaman ini mampu berbuah tiga kali dalam setahun. Kulitnya yang tipis membuat anggur jenis Ninel tidak sulit untuk dimakan langsung bersama dengan kulitnya, sehingga lebih digemari masyarakat.

Umur panen anggur sendiri yaitu 105 hari semenjak pemangkasan daun, masa istirahat selama 20 hari, maka dalam waktu 375 hari bisa panen sebanyak 3 kali.

Melalui pengairan yang baik, aplikasi pemupukan organik maupun anorganik yang cukup, pemeliharaan yang baik serta pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan dapat meningkatkan produksi dan kualitas hasil panennya.

Dengan demikian, harga buah anggur dalam negeri yang lebih murah dibanding buah anggur impor, merupakan peluang bagi industri pengolahan buah tersebut untuk menjadi produk sekunder seperti sirup, wine, jam, kismis, dan lainnya. 

Hama dan penyakit

Penelitian DKPP DIY menemukan beberapa hama dan penyakit di tanaman buah anggur di wilayah Kecamatan Jetis dan Bambanglipuro yaitu lalat buah, belalang, kumbang daun (Apogonia sp) dan busuk kering.

Baca Juga: Berkembang Pesat, Budidaya Anggur di Yogyakarta Panen 3 Kali Dalam Setahun
Teruskan Tradisi Tanam Manggis dari Leluhur, Petani Ini Berhasil Ekspor

Untuk serangan hama dan penyakit, baik dari jenis OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) maupun intensitasnya sebenarnya masih sangat rendah. Petani anggur di Kabupaten Bantul cukup intens dalam perawatan tanamannya.

Melalui teknik pengendalian yang ramah lingkungan seperti perangkap lalat buah, jaring belalang, pestisida nabati serta pengelolaan lahan yang baik, mereka mempertahankan kualitas produk hasil panennya. Diharapkan pengembangan tanaman buah anggur ini dapat meluas ke wilayah sekitarnya karena memiliki prospek yang bagus.

Video Terkait