Canola, Sumber Minyak Nabati yang Paling Ramah Lingkungan

Ilustrasi minyak canola. (pixabay)

Editor: Dera - Selasa, 12 April 2022 | 14:30 WIB

Sariagri - Sebuah studi yang berbasis di Inggris menyebutkan bahwa minyak canola sejauh ini merupakan minyak nabati yang paling ramah lingkungan dalam hal emisi gas rumah kaca per liter minyak yang dihasilkan.

Studi menemukan bahwa biji minyak canola memiliki peringkat jauh lebih efisien daripada minyak terkemuka lainnya seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak sawit.

Studi yang dilakukan oleh University of Nottingham juga menunjukkan bahwa minyak sawit, yang secara tradisional selalu dituduh sebagai penyebab rusaknya lingkungan, sebenarnya merupakan penghasil emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan dengan minyak kedelai, bahkan lebih baik terkait dengan deforestasi serta emisi produksi yang berkelanjutan.

Para ilmuwan dari Future Food Beacon dari Universitas Nottingham melakukan analisis terhadap emisi yang digunakan untuk memproduksi minyak nabati. Studi baru ini mencakup hampir 6.000 produsen di 38 negara, dan mewakili lebih dari 71 persen produksi minyak nabati global.

Di semua sistem tanaman minyak, emisi gas rumah kaca rata-rata adalah 3,81 kg setara dengan karbon dioksida (CO2e) per kg minyak sulingan. Sementara berdasarkan jenis tanaman, emisi bervariasi dari 2,49 kg CO2e untuk minyak canola hingga 4,25 kg CO2e untuk minyak kedelai per kg minyak sulingan.

Peneliti menemukan bahwa luas penggunaan lahan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap emisi gas rumah kaca tanaman, dan umumnya mencapai setengah dari total emisi keseluruhan.

Thomas Alcock, peneliti Future Food Beacon mengatakan bahwa temuan minyak canola ini penting dalam mengidentifikasi sistem yang lebih baik untuk masa depan.

Baca Juga: Canola, Sumber Minyak Nabati yang Paling Ramah Lingkungan
5 Manfaat Minyak Bunga Calendula untuk Kesehatan Kulit



"Hasilnya, terutama di sekitar penggunaan lahan, menunjukkan bahwa kita harus menargetkan produksi di lahan dengan potensi penyimpanan karbon rendah, meskipun kita juga perlu mempertimbangkan indikator keberlanjutan lainnya seperti keanekaragaman hayati," ujarnya seperti dikutip farmonline.com.au.

Ilustrasi tanaman canola. (pixabay)
Ilustrasi tanaman canola. (pixabay)

Dia mengatakan, petani dihadapkan pada pilihan yang sulit untuk masa depan pertanian mereka, karena di satu sisi dituntut untuk meningkatkan output atau hasil setinggi mungkin, tapi di sisi lain harus membatasi penerapan input dengan jerjak karbon tinggi seperti mengurangi penggunaan pupuk sintetis.

"Di pertanian, pupuk umumnya merupakan sumber emisi GRK terbesar," kata Alcock.

"Ini rumit, karena tanaman membutuhkan banyak nitrogen untuk menjadi produktif. Tetapi ada cara untuk menguranginya seperti pemilihan kultivar tanaman yang lebih hemat nitrogen, dan dengan memasukkan tanaman polong-polongan dalam rotasi tanaman, yang akan memberikan nitrogen ke tanah secara lebih alami," imbuhnya.

Video Terkait