Waspada, Gulma Agresif Ini Bisa Jadi Inang Penyakit Berbahaya Bagi Tanaman

Ilustrasi tanaman gulma. (pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 21 April 2022 | 19:45 WIB

Sariagri - Ilmuwan di University of Florida melaporkan bahwa baru-baru ini ditemukan kasus pertama penyakit fitoplasma berbahaya "Candidatus Phytoplasma brasiliense" atau penyakit kuning kacang/yellow nutsedge yang dikenal telah mengancam tanaman buah, sayuran dan tanaman hias di Amerika Selatan dan Timur Tengah.

Penelitian lebih lanjut mengkonfirmasi bahwa inang penyakit tersebut adalah salah satu gulma paling berbahaya (Cyperus esculentus) yang biasa ditemukan di berbagai lingkungan pertanian di seluruh Amerika Serikat dan Kanada.

"Inang dari penyakit ini dikenal sebagai salah satu gulma yang paling luas penyebarannya dan menjadi masalah saat ditemukan di mana-mana," kata Brian Bahder, Asisten Profesor entomologi di UF dikutip Growing Produce.

Menurut Bahder, gulma Cyperus esculentus menjadi salah satu jenis yang paling agresif yang biasanya tumbuh di halaman rumah, kebun sayur dan bunga serta berbagai lahan pertanian lainnya.

Sebelumnya, sesies penyakit fitoplasma Candidatus Phytoplasma brasiliense telah didokumentasikan di wilayah Brasil dan Peru telah merusak kembang sepatu, pepaya, dan kembang kol. Selanjutnya, penelitian menunjukkan spesies yang sama menginfeksi buah persik di Azerbaijan.

Sementara di AS, Bahder dan timnya pertama kali mengkonfirmasi fitoplasma dan inang penyakit tersebut saat melakukan penelitian penyakit bronzing mematikan yang menyerang pohon palem.

Implikasi penyakit dan penyebarannya melalui gulma ini menyebabkan para ilmuwan menganggapnya sebagai ancaman bagi pertanian dan industri tanaman hias.

Baca Juga: Waspada, Gulma Agresif Ini Bisa Jadi Inang Penyakit Berbahaya Bagi Tanaman
Studi: Kandungan Cardamonin di Kapulaga Dapat Obati Kanker Payudara



Saat ini para ilmuwan UF sedang mencari dana untuk melakukan penelitian selanjutnya mengenai inang penyakit tanaman fitoplasma Candidatus Phytoplasma brasiliense di A.

"Langkah logis selanjutnya adalah mencari tahu serangga mana yang menyebarkan penyakit ini,"tukas Bahder.

 

Video Terkait