Kembangkan Ilmu saat Kuliah, Wanita Ini Sukses Bangun Usaha Hidroponik

Devi Safitri, petani hidroponik asal Banyuwangi, Jawa Timur (Istimewa)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Arif Sodhiq - Minggu, 24 April 2022 | 19:30 WIB

Sariagri - Beberapa tahun belakangan ini memang pertanian hidroponik semakin banyak diminati, terutama oleh kalangan milenial. Hidroponik banyak dijadikan pilihan lantaran hasil panen dinilai lebih sehat, mudah perawatan dan tidak perlu mengunakan lahan yang luas.

Seperti halnya yang dilakukan Devi Safitri, seorang wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur. Ia memilih pertanian hidroponik karena ingin mengembangkan ilmu yang dimilikinya sewaktu kuliah di Unviersitas Muhammadiyah Jember.

"Saya ingin mengembangkan ilmu saya dan juga ingin masyarakat indonesia banyak mengonsumsi sayuran yang sehat pastinya bebas pestisida soalnya kan ramah lingkungan juga pastinya," ujar Devi kepada Sariagri.

Menurutnya, sayuran hidroponik memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dibanding konvensional. Slain itu, masyarakat juga lebih menyukai tanaman hidorponik lantaran kualitasnya yang lebih baik.

Awal berhidorponik, Devi mulai dari skala kecil hanya menanam beberapa lubang tanam saja selama 3 bulan. Ia juga sudah mulai memasarkannya kepada para konsumen. Kini usahanya semakin berkembang, ia msudah memiliki tanaman hidroponik berkapasitas sekitar 3.000 lubang tanam

"Mulai awal buat metode NFT dan untuk nambah lubang tanam yang kedua itu ada sistem arakit apung jadi pakek kolam," ucapnya.

Baca Juga: Kembangkan Ilmu saat Kuliah, Wanita Ini Sukses Bangun Usaha Hidroponik
Kisah Petani Milenial Kalsel Usaha Hidroponik Raup Cuan Melimpah

Devi mengatakan awal mula berhidroponik ia menanam semua jenis sayuran hortikultura. Pasalnya ia ingin mempelajari pertumbuhan dari berbagai macam sayuran. Namun, untuk sekarang permintaan yang sedang tinggi ia menanam selada dan lettuce di kebunnya yang diberi nama Sayurku Hydrofarm.

Devi menyampaikan bahwa ia menjual hasil panennya ke beberapa outlet makanan, seperti rumah makan, penjual kebab hingga ke pasar-pasar tradisioinal. Sementara omset ia mengaku bisa meraup hingga Rp5 juta per bulan ketika harga sedang normal.

Video Terkait