Sering Dibuang Begitu Saja, Limbah Jeruk Nipis Bisa Jadi Pestisida Alami

Buah jeruk nipis. (Pixnio)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 16 Mei 2022 | 12:40 WIB

Sariagri - Selama ini air perasan jeruk nipis sering digunakan untuk campuran makanan dan minuman. Tapi siapa sangka, kulit dan ampas jeruk nipis ternyata juga dapat diolah menjadi bahan pembasmi hama tanaman dengan cara sederhana.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di International Journal of Environment and Waste Management menjelaskan metode penyulingan uap sederhana menggunakan pressure cooker (panci presto) rumahan dapat menghasilkan ekstrak minyak esensial berguna sebagai pestisida alami.

Dalam studi itu para peneliti mengumpulkan limbah kulit jeruk nipis yang diperoleh dalam jumlah besar dari banyak penjual jus di negara bagian Delhi.

Studi itu menemukan minyak atsiri dari ekstrak kulit jeruk nipis memiliki aktivitas antijamur, larvasida, insektisida dan antimikroba sehingga berpotensi menjadi bahan perlindungan tanaman dan pembersih rumah.

Ahli kimia Tripti Kumari dan Nandana Pal Chowdhury dari University of Delhi dan Ritika Chauhan dari Bharati Vidyapeeth's College of Engineering di New Delhi telah menggunakan destilasi uap dari panci presto untuk menghasilkan ekstrak kulit jeruk nipis.

"Metode ekstraksi yang dilaporkan menghasilkan nol limbah, hemat energi dan memberikan hasil yang baik," tulis studi tersebut.

Ekstrak kulit jeruk nipis menggunakan panci presto menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap jenis Bacillus subtilis dan Rhodococcus equi. Selain itu, ekstrak kulit jeruk nipis juga dapat membunuh nyamuk dan larva kecoa.

Baca Juga: Sering Dibuang Begitu Saja, Limbah Jeruk Nipis Bisa Jadi Pestisida Alami
Ekspor Durian Thailand ke Cina Meningkat Empat Kali Lipat dalam 5 Tahun



Para peneliti meyakini, penemuan itu memungkinkan adanya pendekatan domestik untuk membuat produk minyak esensial dari kulit jeruk nipis skala rumahan.

"Membawa pulang sains dan memberikan alternatif yang efektif untuk produk pestisida dan produk yang diproduksi dengan mahal," kata peneliti dikutip phys.org.

 

Video Terkait