Inspirasi Desain Hidroponik yang Mudah Dibuat Untuk Bercocok Tanam

Kebun sayuran hidroponik milik Andi Solipu di Bone (SariAgri/Usman Muin)

Editor: Tanti Malasari - Selasa, 17 Mei 2022 | 16:50 WIB

Sariagri - Hidroponik adalah metode penanaman tanpa menggunakan media tumbuh dari tanah. Desain hidroponik pun ada banyak macamnya.

Metode ini pada dasarnya menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Lantas apa saja macam-macamnya, berikut ulasan lengkap mengenai desain hidroponik yang bisa kamu buat di rumah.

Desain hidroponik yang mudah dibuat

Hobi berkebun atau bercocok tanam hingga saat ini masih menjadi gaya hidup yang banyak dilakukan. Selain membeli, instalasi hidroponik juga dapat kamu buat sendiri di rumah.

Tak perlu khawatir, alat dan bahan yang diperlukan sangat mudah di dapatkan. Kamu bisa membelinya di toko-toko bangunan. Yuk kita simak bagaimana cara membuatnya.

1. Hidroponik NFT

Salah satu yang banyak digunakan adalah desain hidroponik NFT. Jenis hidroponik ini merupakan salah satu cara menanam hidroponik yang menggunakan sistem sirkulasi nutrisi.

Metode ini ditujukan agar tanaman mendapatkan nutrisi, air, dan oksigen secara bersamaan menggunakan pipa di bawah tanaman.

Bagi kebanyakan orang hidroponik ini dianggap lebih efisien dan efektif karena dapat menghemat tenaga, kerja dan waktu.

2. Hidroponik Sederhana

Desain hidroponik sederhana ini punya nama lain hidroponik wick. Sistem ini menggunakan sistem sumbu yaitu dengan menggunakan media tanam berupa tali atau kain wol (kapiler) dan wadah yang terbuat dari plastik.

Sistem ini paling mudah dan sederhana untuk dilakukan, sehingga sangat cocok digunakan ketika kamu memulai untuk bercocok tanam.

Selain mudah untuk dilakukan, bentuk desain ini kecil namun untuk risiko kegagalannya pun tergolong cukup rendah.

Dengan meletakkan tanaman pada sebuah wadah dan tempat penyimpanan air yang sebelumnya sudah diberikan larutan nutrisi seperti pupuk dan penyubur tanaman, maka tanaman bisa tumbuh menjadi subur.

3. Hidroponik DFT

Sistem desain hidroponik DFT atau Deep Flow Technique adalah metode budidaya tanaman hidroponik dengan meletakkan akar tanaman pada lapisan air dengan kedalaman 4-6 cm atau lebih, ke dalam lapisan larutan nutrisi sistem NFT.

Prinsip kerja hidroponik DFT adalah mensirkulasikan larutan nutrisi tanaman secara terus menerus selama 24 jam pada rangkaian aliran tertutup.

Larutan nutrisi pada tanaman ini kemudian dipompa menuju bak penanaman melalui jaringan irigasi pipa, kemudian larutan nutrisi tanaman di dalam bak penanaman dialirkan kembali menuju tangki.

4. Hidroponik Vertikulur

Hidroponik vertikulur atau desain hidroponik dinding adalah salah satu sistem hidroponik yang paling hemat lahan dibandingkan sistem yang lain. Sistem ini bahkan menjadi solusi untuk menciptakan taman di dinding.

Hal inilah yang menjadikannya sistem ini sering disebut dengan nama hidroponik dinding.

Selain hemat lahan, sistem hidroponik dinding ini sangatlah fleksibel, terutama pada tipe rumah modern minimalis. Hidroponik dinding ini juga menjadi eksterior yang menawarkan nilai estetika tersendiri di dalam rumah.

5. Hidroponik Pasang Surut (EEB & Flow)

Sistem hidroponik yang satu ini membutuhkan pompa air. Pompa ini nantinya akan diatur menggunakan timer. Lantas bagaimana sistem kerjanya?

Sistem pasang surut ini akan membanjiri tanaman dengan menggunakan air yang kaya nutrisi selama periode tertentu.

Proses pembanjiran ini hanya akan terjadi apabila pompa air menyala, sementara saat pompa mati maka akan terjadi penyurutan. Hal ini mengapa pompa memiliki peranan penting dalam sistem pasang surut (EEB & Flow).

Baca Juga: Inspirasi Desain Hidroponik yang Mudah Dibuat Untuk Bercocok Tanam
3 Nutrisi Hidroponik Terbaik untuk Tanaman yang Lebih Sehat

6. Hidroponik Rakit Apung (Water Culuture)

Jenis hidroponik yang satu ini menjadi salah satu cara bercocok tanam hidroponik modern. Sistem ini menggunakan styrofoam yang sudah dibolongi untuk menempatkan tanaman dan nantinya akan mengapung di atas larutan nutrisi.

Penggunaan budidaya ini cocok untuk digunakan dalam skala kecil maupun skala besar, termasuk untuk kebutuhan komersial.

Namun meski begitu, sistem yang satu ini tidak akan memakan banyak biaya karena bisa memanfaatkan bahan bekas. Bahkan media yang dibutuhkan pun tidak terlalu luas dan tanaman tidak akan rentan layu.

Video Terkait