Intip Perbedaan Labu Parang dan Labu Kabocha, Jangan Sampai Salah!

Ilustrasi Labu (Pixabau)

Penulis: Triana, Editor: Tanti Malasari - Jumat, 10 Juni 2022 | 20:50 WIB

Sariagri - Labu adalah tumbuhan merambat anggota suku labu-labuan. Biasanya buah ini sangat diidentikan dengan bulan Ramadan. Dilansir dari healthline, labu memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan.

Beberapa manfaat tersebut dipercaya bisa menjaga kekebalan tubuh, melindungi mata, menurunkan risiko kanker, dan masih banyak lagi.

Berbicara mengenai labu, ternyata labu memiliki banyak jenisnya lho. Menurut hasil penilitian, setidaknya terdapat sekitar 40-an jenis labu yang ditemukan hingga saat ini.

Jenis-jenis ini tergantung pada bentuk, tekstur, dan rasa yang tentu berbeda-beda. Namun ada dua jenis labu yang populer dan sering saling tertukar adalah labu parang dan labu kabocha. Lantas apa saja perbedaan antara keduanya? Berikut ulasannya!

Perbedaan labu parang dan labu kabocha

1. Labu Parang

Labu parang kuning banyak dibudidayakan di negara Afrika, Amerika, India dan Cina. Di Indonesia sendiri, Labu Parang Kuning disebut dengan “Labu Parang”. Ciri tanaman labu parang merambat dengan batang kuat dan panjang terdapat bulu-bulu tajam.

Bobot labu kuning bisa mencapai 4 hingga 5 kg per buah, bahkan ada yang mencapai ratusan kilogram. Tak heran labu parang disebut sebagai rajanya labu. Buah yang berukuran besar ini berkulit keras, ada yang berwarna hijau, kecoklatan, dan berwarna oranye. Daging buahnya tebal, berwarna kuning oranye.

Labu parang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan diantaranya sebagai penambah nafsu makan anak, memperbaiki tekanan darah tinggi, gangguan kandung kemih, sakit maag, memperbaiki kulit kusam dan menghilangkan flek hitam.

Selain itu, labu yang mempunyai nama lain waluh ini juga mengandung antioksidan sebagai penangkal radikal bebas dan kanker.

2. Kabocha

Secara fisik, labu kabocha sepintas mirip dengan labu parang yang biasa ditemui di Indonesia. Bentuknya yang lebih kecil membuat jenis labu ini menjadi khas dan mudah dikenali oleh konsumen.

Labu kabocha diketahui berasal dari Jepang. Namun, faktanya kabocha pertama kali diperkenalkan di Jepang oleh pedagang Portugis pada abad ke 16. Sebelum itu, pedagang sempat singgah di Kamboja dan membawa beberapa buah-buahan dari wilayah tersebut.

Orang Portugis menamai buah ini dengan nama “Cambodia Abóbora”, karena sulit untuk diucapkan oleh orang Jepang, lalu penyebutannya terdengar seperti “Kabocha”.

Dalam bahasa Jepang, Kabocha berarti Labu Parang, yang mencakup seluruh jenis Labu Parang yang tumbuh pada musim panas setiap tahunnya.

Kandungan nutrisi di dalam Kabocha sangat baik bagi kesehatan. Diketahui, satu cangkir penyajian Kabocha mengandung 30 kalori yang sebagian besar berasal dari karbohidrat (terdapat 7 gram karbohidrat dalam satu cangkir Kabocha tersebut).

Fakta bahwa Kabocha juga banyak mengandung vitamin dan nutrien lain juga ternyata terbukti. Terdapat 10.707 IU (International Unit) vitamin A pada satu cangkir Kabocha yang dipotong dadu dan kemudian dipanggang.

Baca Juga: Intip Perbedaan Labu Parang dan Labu Kabocha, Jangan Sampai Salah!
'Ratu Benih' Palestina Bawa Labu Yakteen ke Tanah Pertanian Amerika

Jumlah ini lebih dari dua kali lipat dari indeks harian yang direkomendasikan oleh US food and drugs administration. Selain itu, kabocha juga mengandung betakaroten, yang merupakan prekursor vitamin A.

Zat ini berguna melindungi mata dari kerusakan akibat sinar dan membantu mencegah degenerasi makula.

Dengan satu cangkir penyajian Kabocha panggang, berarti kita juga telah mengonsumsi hingga sekitar 20 mg vitamin C. Vitamin C merupakan antioksidan yang efektif dan merupakan komponen yang dibutuhkan oleh pembuluh darah, ligamen dan bagian tubuh lainnya.

Video Terkait